KOMPAS.COM
KPU Dinilai Gagal Sosialisasikan Pemilu
Minggu, 22 Februari 2009 | 17:04 WITA
JAKARTA, MINGGU - Komisi Pemilihan Umum (KPU) dinilai gagal besar dalam menyosialisasikan Pemilu. Pemantauan yang dilakukan oleh Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Jakarta Raya, banyak warga yang belum tahu jadwal pelaksanaan Pemilu.
Hasil pemantauan LIMA ini dipresentasikan Said Salahudin, Direktur LIMA Jakarta Raya, dalam jumpa pers di kawasan Jalan Lautze, Jakarta Pusat, Minggu (22/2). LIMA Jakarta Raya melakukan pemantauan ini dari 5-18 Februari 2009. Responden yang disurvei berjumlah 720 orang dari DKI Jakarta, Depok, Bekasi, Kabupaten Bogor, dan Kota Tangerang.
Salah satu pertanyaan yang diajukan dalam survei ini adalah: Apakah Anda tahu tanggal pelaksanaan Pemilu? Ternyata 24,5% responden menjawab tahu tanggal dan bulan pelaksanaan Pemilu. Sedangkan 45,5% responden hanya mengetahui bulannya saja, dan 30 persen sisanya mengaku tidak tahu sama sekali.
Terhadap pertanyaan "Apakah Anda sudah terdaftar sebagai pemilih tetap?", 63,5% resonden menjawab 'sudah', 3% menjawab 'belum', dan 33,5% mengaku 'tidak tahu.'
Dari 63,5% responden yang menyatakan sudah terdaftar sebagai pemilih tetap, hanya 0,75% saja yang berani memastikan sudah terdaftar sebagai pemilih tetap. Sedangkan 37% lainnya menyebut terdaftar sebagai pemilih berdasarkan informasi dari orang lain. Sisanya, 62,25% menyatakan sudah terdaftar karena sudah pernah didaftar oleh petugas.
Terhadap 3% responden yang menjawab belum terdafar sebagai pemilih tetap, menyatakan telah mengecek langsung DPT dan tidak menemukan namanya di daftar itu. Sedangkan dari 33,5% yang menyatakan 'tidak tahu', karena responden tidak mencari informasi atau memeriksa namanya tercantum atau tidak di DPT.
"Kesimpulannya, pertama, KPU nyata-nyata gagal dalam melakukan sosialisasi waktu pelaksanaan pemilu. Kedua, animo masyarakat untuk mengecek DPT sangatlah rendah," kata Said Salahuddin.
Sementara itu Direktur LIMA, Ray Rangkuti, mengatakan tujuan dilakukan pemantauan ini, selain untuk menyampaikan pesan bahwa saat ini tinggal 50 hari pelaksanaan Pemilu, juga untuk mengetahui tingkat kepedulian pemilih.
Dan hasilnya, masyarakat belum mengetahui pelaksanaan Pemilu. Ada dua faktor hal ini. Pertama, tingkat kepedulian pemilih sangat rendah. Kedua, menunjukkan lemahnya sosialisasi, di mana KPU tidak memiliki insiatif yang cukup. (dtk/asy /nwk )
Minggu, 22 Februari 2009
75,5 Persen Pemilih Tak Tahu Kapan Pemilu
TEMPOINTERAKTIF.COM
75,5 Persen Pemilih Tak Tahu Kapan Pemilu
Minggu, 22 Februari 2009 | 09:45 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Survei Lingkar Madani untuk Indonesia menunjukkan hanya 24,5 persen pemilih tahu tanggal pemilihan legislatif, yaitu 9 April 2009. "Sisanya, 75,5 persen tak tahu pasti kapan pemilihan itu dilaksanakan," tulis Said Salahudin, Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia dalam siaran pers yang diterima Tempo, Ahad (22/2).
Hari ini Lingkar Madani memaparkan hasil surveinya mengenai kinerja Komisi Pemilihan Umum terhadap sosialisasi pemilu yang ternyata kurang tersebut. Selain kinerja Komisi, daftar pemilih tetap dan potensi kisruh juga diukur dalam survei.
Hasilnya, kata Sudi, hanya 3,75 persen calon pemilih yang mengecek namanya di pengumuman daftar pemilih tetap (DPT). Adapun hasil potensi kisruh menunjukkan 62,25 persen calon pemilih akan protes kepada kelompok penyelenggaraan pemilihan suara apabila namanya tidak terdaftar.
Survei ini dilakukan pada 9 kota/kabupaten di Jakarta, Jawa Barat dan sebagian Banten. Sebellumnya, survei Lembaga Peduli Remaja Kriya Mandiri memperlihatkan pemilih pemula di Surakarta, Jawa Tengah, cenderung cuek pada pelaksanaan pemilu.
Survei lembaga yang bergerak di pendidikan dan pendampingan remaja di bidang sosial dan ekonomi, ini menemukan 67,5 persen pemilih pemula tak tahu tahapan dan sistem pemilu di negerinya. "Mereka lebih menikmati belajar," kata Direktur Kriya Mandiri Doni Dwi Cahyadi pada Kamis (19/2).
Sebanyak 60,5 persen pemilih pemula menyatakan tidak yakin akan memberikan suaranya saat pencoblosan nanti. Sedangkan 18 persen lainnya, kata Doni, mereka tidak akan memberikan suaranya. “Hal ini berpotensi menyebabkan angka golput akan semakin besar,” ujarnya.
Survei dilakukan terhadap 10 SMA di Surakarta dengan sampel 340 siswa. Pemilihan 10 sekolah berdasarkan patokan prestasi. “Ada sekolah yang prestasi siswanya baik, sedang, dan kurang.” Waktu survei 12 Januari hingga 17 Februari 2008 dengan teknik pengambilan sampel secara random proporsional berlapis.
Usia responden 17-20 tahun dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan sampling error 5 persen. Doni menyarankan kepada Komisi Pemilihan Umum untuk intens sosialisasi ke sekolah. Dengan begitu, akan mampu menimalisir pemilih pemula yang tidak menggunakan hak pilihnya.
Anggota KPU Surakarta Divisi Hubungan Antarlembaga dan Data Informasi, Agus Sulistyo, mengakui jika selama ini belum banyak melakukan sosialisasi pemilu ke sekolah. “Seingat saya baru sekali, ke depan sudah ada jadwal untuk empat sekolah lainnya,” kata dia.
DIANING SARI
75,5 Persen Pemilih Tak Tahu Kapan Pemilu
Minggu, 22 Februari 2009 | 09:45 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Survei Lingkar Madani untuk Indonesia menunjukkan hanya 24,5 persen pemilih tahu tanggal pemilihan legislatif, yaitu 9 April 2009. "Sisanya, 75,5 persen tak tahu pasti kapan pemilihan itu dilaksanakan," tulis Said Salahudin, Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia dalam siaran pers yang diterima Tempo, Ahad (22/2).
Hari ini Lingkar Madani memaparkan hasil surveinya mengenai kinerja Komisi Pemilihan Umum terhadap sosialisasi pemilu yang ternyata kurang tersebut. Selain kinerja Komisi, daftar pemilih tetap dan potensi kisruh juga diukur dalam survei.
Hasilnya, kata Sudi, hanya 3,75 persen calon pemilih yang mengecek namanya di pengumuman daftar pemilih tetap (DPT). Adapun hasil potensi kisruh menunjukkan 62,25 persen calon pemilih akan protes kepada kelompok penyelenggaraan pemilihan suara apabila namanya tidak terdaftar.
Survei ini dilakukan pada 9 kota/kabupaten di Jakarta, Jawa Barat dan sebagian Banten. Sebellumnya, survei Lembaga Peduli Remaja Kriya Mandiri memperlihatkan pemilih pemula di Surakarta, Jawa Tengah, cenderung cuek pada pelaksanaan pemilu.
Survei lembaga yang bergerak di pendidikan dan pendampingan remaja di bidang sosial dan ekonomi, ini menemukan 67,5 persen pemilih pemula tak tahu tahapan dan sistem pemilu di negerinya. "Mereka lebih menikmati belajar," kata Direktur Kriya Mandiri Doni Dwi Cahyadi pada Kamis (19/2).
Sebanyak 60,5 persen pemilih pemula menyatakan tidak yakin akan memberikan suaranya saat pencoblosan nanti. Sedangkan 18 persen lainnya, kata Doni, mereka tidak akan memberikan suaranya. “Hal ini berpotensi menyebabkan angka golput akan semakin besar,” ujarnya.
Survei dilakukan terhadap 10 SMA di Surakarta dengan sampel 340 siswa. Pemilihan 10 sekolah berdasarkan patokan prestasi. “Ada sekolah yang prestasi siswanya baik, sedang, dan kurang.” Waktu survei 12 Januari hingga 17 Februari 2008 dengan teknik pengambilan sampel secara random proporsional berlapis.
Usia responden 17-20 tahun dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan sampling error 5 persen. Doni menyarankan kepada Komisi Pemilihan Umum untuk intens sosialisasi ke sekolah. Dengan begitu, akan mampu menimalisir pemilih pemula yang tidak menggunakan hak pilihnya.
Anggota KPU Surakarta Divisi Hubungan Antarlembaga dan Data Informasi, Agus Sulistyo, mengakui jika selama ini belum banyak melakukan sosialisasi pemilu ke sekolah. “Seingat saya baru sekali, ke depan sudah ada jadwal untuk empat sekolah lainnya,” kata dia.
DIANING SARI
75,5 Persen Pemilih Tak Tahu Kapan Pemilu
TEMPOINTERAKTIF.COM
75,5 Persen Pemilih Tak Tahu Kapan Pemilu
Minggu, 22 Februari 2009 | 09:45 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Survei Lingkar Madani untuk Indonesia menunjukkan hanya 24,5 persen pemilih tahu tanggal pemilihan legislatif, yaitu 9 April 2009. "Sisanya, 75,5 persen tak tahu pasti kapan pemilihan itu dilaksanakan," tulis Said Salahudin, Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia dalam siaran pers yang diterima Tempo, Ahad (22/2).
Hari ini Lingkar Madani memaparkan hasil surveinya mengenai kinerja Komisi Pemilihan Umum terhadap sosialisasi pemilu yang ternyata kurang tersebut. Selain kinerja Komisi, daftar pemilih tetap dan potensi kisruh juga diukur dalam survei.
Hasilnya, kata Sudi, hanya 3,75 persen calon pemilih yang mengecek namanya di pengumuman daftar pemilih tetap (DPT). Adapun hasil potensi kisruh menunjukkan 62,25 persen calon pemilih akan protes kepada kelompok penyelenggaraan pemilihan suara apabila namanya tidak terdaftar.
Survei ini dilakukan pada 9 kota/kabupaten di Jakarta, Jawa Barat dan sebagian Banten. Sebellumnya, survei Lembaga Peduli Remaja Kriya Mandiri memperlihatkan pemilih pemula di Surakarta, Jawa Tengah, cenderung cuek pada pelaksanaan pemilu.
Survei lembaga yang bergerak di pendidikan dan pendampingan remaja di bidang sosial dan ekonomi, ini menemukan 67,5 persen pemilih pemula tak tahu tahapan dan sistem pemilu di negerinya. "Mereka lebih menikmati belajar," kata Direktur Kriya Mandiri Doni Dwi Cahyadi pada Kamis (19/2).
Sebanyak 60,5 persen pemilih pemula menyatakan tidak yakin akan memberikan suaranya saat pencoblosan nanti. Sedangkan 18 persen lainnya, kata Doni, mereka tidak akan memberikan suaranya. “Hal ini berpotensi menyebabkan angka golput akan semakin besar,” ujarnya.
Survei dilakukan terhadap 10 SMA di Surakarta dengan sampel 340 siswa. Pemilihan 10 sekolah berdasarkan patokan prestasi. “Ada sekolah yang prestasi siswanya baik, sedang, dan kurang.” Waktu survei 12 Januari hingga 17 Februari 2008 dengan teknik pengambilan sampel secara random proporsional berlapis.
Usia responden 17-20 tahun dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan sampling error 5 persen. Doni menyarankan kepada Komisi Pemilihan Umum untuk intens sosialisasi ke sekolah. Dengan begitu, akan mampu menimalisir pemilih pemula yang tidak menggunakan hak pilihnya.
Anggota KPU Surakarta Divisi Hubungan Antarlembaga dan Data Informasi, Agus Sulistyo, mengakui jika selama ini belum banyak melakukan sosialisasi pemilu ke sekolah. “Seingat saya baru sekali, ke depan sudah ada jadwal untuk empat sekolah lainnya,” kata dia.
DIANING SARI
75,5 Persen Pemilih Tak Tahu Kapan Pemilu
Minggu, 22 Februari 2009 | 09:45 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Survei Lingkar Madani untuk Indonesia menunjukkan hanya 24,5 persen pemilih tahu tanggal pemilihan legislatif, yaitu 9 April 2009. "Sisanya, 75,5 persen tak tahu pasti kapan pemilihan itu dilaksanakan," tulis Said Salahudin, Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia dalam siaran pers yang diterima Tempo, Ahad (22/2).
Hari ini Lingkar Madani memaparkan hasil surveinya mengenai kinerja Komisi Pemilihan Umum terhadap sosialisasi pemilu yang ternyata kurang tersebut. Selain kinerja Komisi, daftar pemilih tetap dan potensi kisruh juga diukur dalam survei.
Hasilnya, kata Sudi, hanya 3,75 persen calon pemilih yang mengecek namanya di pengumuman daftar pemilih tetap (DPT). Adapun hasil potensi kisruh menunjukkan 62,25 persen calon pemilih akan protes kepada kelompok penyelenggaraan pemilihan suara apabila namanya tidak terdaftar.
Survei ini dilakukan pada 9 kota/kabupaten di Jakarta, Jawa Barat dan sebagian Banten. Sebellumnya, survei Lembaga Peduli Remaja Kriya Mandiri memperlihatkan pemilih pemula di Surakarta, Jawa Tengah, cenderung cuek pada pelaksanaan pemilu.
Survei lembaga yang bergerak di pendidikan dan pendampingan remaja di bidang sosial dan ekonomi, ini menemukan 67,5 persen pemilih pemula tak tahu tahapan dan sistem pemilu di negerinya. "Mereka lebih menikmati belajar," kata Direktur Kriya Mandiri Doni Dwi Cahyadi pada Kamis (19/2).
Sebanyak 60,5 persen pemilih pemula menyatakan tidak yakin akan memberikan suaranya saat pencoblosan nanti. Sedangkan 18 persen lainnya, kata Doni, mereka tidak akan memberikan suaranya. “Hal ini berpotensi menyebabkan angka golput akan semakin besar,” ujarnya.
Survei dilakukan terhadap 10 SMA di Surakarta dengan sampel 340 siswa. Pemilihan 10 sekolah berdasarkan patokan prestasi. “Ada sekolah yang prestasi siswanya baik, sedang, dan kurang.” Waktu survei 12 Januari hingga 17 Februari 2008 dengan teknik pengambilan sampel secara random proporsional berlapis.
Usia responden 17-20 tahun dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan sampling error 5 persen. Doni menyarankan kepada Komisi Pemilihan Umum untuk intens sosialisasi ke sekolah. Dengan begitu, akan mampu menimalisir pemilih pemula yang tidak menggunakan hak pilihnya.
Anggota KPU Surakarta Divisi Hubungan Antarlembaga dan Data Informasi, Agus Sulistyo, mengakui jika selama ini belum banyak melakukan sosialisasi pemilu ke sekolah. “Seingat saya baru sekali, ke depan sudah ada jadwal untuk empat sekolah lainnya,” kata dia.
DIANING SARI
LIMA : 75% Warga Buta Waktu Pemilu
KOMPAS TV
LIMA : 75% Warga Buta Waktu Pemilu
Senin, 23 Pebruari 2009, 08.12 WIB
Komisi pemilihan Umum (KPU) dinilai Lingkar madani untuk Indonesia (LIMA) telah gagal dalam melakukan sosilisasi pelaksanaan Pemilu. Dari hasil survey yang dilakukan LIMA, tercatat sekitar 75 % masyrakat yang masih belum mengatahui waktu pelaksanaan pemilu.
Hasil survey yang dilakukan pada Februari 2009 ini menunjukan hanya 24,5% masyarakat yang mengatahui secara pasti waktu pelaksanaan pemilu. Sedangkan dari 75% masyrakat yang tidak mengetahui pelaksanaan pemilu, 24,5% diantaranya hanya mengetahui bulan pelaksanaan pemilu.
Sementara itu, 30% diantaranya tidak mengetahui tanggal maupun bulan Pemilu dilaksanakan. Dengan ditemukanya hasil ini, KPU diharapkan mampu melakukan sosilisai yang lebih maksimal mengingat waktu yamg semakin sempit.
Survey dilakukan terhadap 720 orang calon pemilih yang tersebar di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Jabodetabek dipilih karena tingkat kemudahan masyarakat untuk mendaopatkan informasi dinilai tinggi.
| Rep/ Kam/ Pen: Mahfud | VO: Maya, Derly | Editor video: Ardie
LIMA : 75% Warga Buta Waktu Pemilu
Senin, 23 Pebruari 2009, 08.12 WIB
Komisi pemilihan Umum (KPU) dinilai Lingkar madani untuk Indonesia (LIMA) telah gagal dalam melakukan sosilisasi pelaksanaan Pemilu. Dari hasil survey yang dilakukan LIMA, tercatat sekitar 75 % masyrakat yang masih belum mengatahui waktu pelaksanaan pemilu.
Hasil survey yang dilakukan pada Februari 2009 ini menunjukan hanya 24,5% masyarakat yang mengatahui secara pasti waktu pelaksanaan pemilu. Sedangkan dari 75% masyrakat yang tidak mengetahui pelaksanaan pemilu, 24,5% diantaranya hanya mengetahui bulan pelaksanaan pemilu.
Sementara itu, 30% diantaranya tidak mengetahui tanggal maupun bulan Pemilu dilaksanakan. Dengan ditemukanya hasil ini, KPU diharapkan mampu melakukan sosilisai yang lebih maksimal mengingat waktu yamg semakin sempit.
Survey dilakukan terhadap 720 orang calon pemilih yang tersebar di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Jabodetabek dipilih karena tingkat kemudahan masyarakat untuk mendaopatkan informasi dinilai tinggi.
| Rep/ Kam/ Pen: Mahfud | VO: Maya, Derly | Editor video: Ardie
Hanya 24,5% Pemilih Tahu Waktu Pemilu
SUARA KARYA
INERJA KPU
Hanya 24,5% Pemilih Tahu Waktu Pemilu
Senin, 23 Februari 2009
JAKARTA (Suara Karya): Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah gagal melakukan sosialisasi pemilu. Buktinya, berdasarkan survei, mayoritas pemilih tidak tahu waktu pelaksanaan pemilu legislatif maupun tata cara pemberian suara.
Menurut survei yang dilakukan Lingkar Masyarakat Madani (Lima), dari 720 responden yang berasal dari wilayah DKI Jakarta, Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Bogor hanya 24,5 persen yang dapat menjawab tanggal dan bulan pelaksanaan pemilu. Sementara 45,5 persen responden hanya mengetahui bulan pelaksanaan pemilu, dan 30 persen lagi tidak mengetahui kapan pemilu dilaksanakan.
"Kita melihat, KPU nyata-nyata gagal dalam melakukan sosialisasi jadwal pelaksanaan pemilu. Masyarakat yang menjadi responden banyak yang tidak tepat menyebutkan kapan pemilu dilakukan," kata Direktur Lima Said Salahuddin, di Jakarta, kemarin.
Responden yang dipilih berusia 18-46 tahun dengan latar belakang pelajar, mahasiswa, pedagang, pegawai negeri sipil, profesional, dan ibu rumah tangga. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara tatap muka. Lima memastikan sampling error 0 persen.
Said menuturkan, melalui survei yang dilakukan selama 5-18 Februari itu juga ditemukan fakta bahwa tingkat keingintahuan masyarakat mengenai hak pilih ternyata masih rendah. Berdasarkan pertanyaan dalam survei, sebanyak 63,5 persen responden menjawab sudah terdaftar sebagai pemilih, 3 persen belum terdaftar, dan 33,5 persen mengaku tidak tahu.
Dari 63,5 persen responden yang sudah terdaftar sebagai pemilih, hanya 0,75 persen yang berani memastikan sudah terdaftar sebagai pemilih tetap. Sebanyak 37 persen responden menyatakan telah terdaftar sebagai pemilih karena mendapatkan informasi dari orang lain. Lalu 62,25 persen mengaku sudah terdaftar karena pernah didaftar oleh petugas.
Untuk 3 persen responden yang menjawab belum terdafar sebagai pemilih tetap, mereka mengaku telah melakukan pengecekan dan menemukan nama mereka belum masuk daftar pemilih tetap (DPT). Sedangkan dari 33,5 persen responden yang menyatakan tidak mengetahui apakah sudah masuk DPT mengaku tidak melakukan pengecekan DPT.
"Dari situ terlihat, animo masyarakat untuk melakukan pengecekan terhadap DPT masih sangat rendah walau memang sebagian besar mengaku sudah masuk DPT," kata Said.
Menurut Direktur Lima, Ray Rangkuti, survei itu memperlihatkan bahwa KPU tidak memiliki inisiatif besar dalam melakukan sosialisasi pemilu. Dia menilai, pelaksanaan pemilu legislatif kurang lebih tinggal 50 hari lagi. Tetapi masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui pelaksanaan pemilu ini.
"Dari survei itu terlihat bahwa tingkat kepedulian masyarakat sangat rendah. Ini semua karena KPU juga tidak menunjukkan keinginan yang besar dalam melakukan sosialisasi pemilu," katanya.
Menurut Ray, KPU terlihat hanya mengutamakan masalah penerbitan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) menyangkut penetapan caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak. "Sosialisasi berbagai hal yang sudah pasti saja belum maksimal, apalagi jika nanti ditambah dengan terbitnya perppu yang pasti membutuhkan aturan baru," katanya.
Ray menyebutkan, dengan waktu yang semakin terbatas, terutama terkait sosialisasi pemilu, KPU lebih baik memfokuskan diri terhadap aturan yang telah ada. KPU tidak perlu memaksa meminta perppu. Ini tak hanya terkait persoalan waktu, tetapi juga aturan baru, sehingga KPU perlu juga memerlukan dana tambahan untuk sosialisasi. "Ini hanya buang-buang uang karena sosialisasi yang telah dilakukan menjadi sia-sia," ujarnya.
Beberapa waktu lalu KPU mengaku telah melakukan sosialisasi pemilu. KPU juga menyatakan akan lebih mengintensifkan sosialisasi pemilu legislatif sehingga diperkirakan tingkat partisipasi masyarakat dalam menggunakan hak pilih bisa mencapai 80 persen.
Menurut anggota KPU yang juga Ketua Divisi Sosialisasi Pemilu 2009 Endang Sulastri, sosialisasi pemilu dilakukan dengan menggunakan komunikasi media, tatap muka, dan mobilisasi pemilu.
KPU juga telah melakukan bimbingan teknis terhadap KPU provinsi maupun KPU kabupaten/kota di tujuh wilayah mengenai pemungutan dan penghitungan suara.
"KPU juga menjalin kerja sama dengan provider-provider menyangkut pengiriman pesan singkat pemilu yang isinya memuat tiga tema, yakni pentingnya pemilu, penandaan centang, dan imbauan bagi pemilih agar memilih pada 9 April 2009," ujarnya. (Tri Handayani)
INERJA KPU
Hanya 24,5% Pemilih Tahu Waktu Pemilu
Senin, 23 Februari 2009
JAKARTA (Suara Karya): Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah gagal melakukan sosialisasi pemilu. Buktinya, berdasarkan survei, mayoritas pemilih tidak tahu waktu pelaksanaan pemilu legislatif maupun tata cara pemberian suara.
Menurut survei yang dilakukan Lingkar Masyarakat Madani (Lima), dari 720 responden yang berasal dari wilayah DKI Jakarta, Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Bogor hanya 24,5 persen yang dapat menjawab tanggal dan bulan pelaksanaan pemilu. Sementara 45,5 persen responden hanya mengetahui bulan pelaksanaan pemilu, dan 30 persen lagi tidak mengetahui kapan pemilu dilaksanakan.
"Kita melihat, KPU nyata-nyata gagal dalam melakukan sosialisasi jadwal pelaksanaan pemilu. Masyarakat yang menjadi responden banyak yang tidak tepat menyebutkan kapan pemilu dilakukan," kata Direktur Lima Said Salahuddin, di Jakarta, kemarin.
Responden yang dipilih berusia 18-46 tahun dengan latar belakang pelajar, mahasiswa, pedagang, pegawai negeri sipil, profesional, dan ibu rumah tangga. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara tatap muka. Lima memastikan sampling error 0 persen.
Said menuturkan, melalui survei yang dilakukan selama 5-18 Februari itu juga ditemukan fakta bahwa tingkat keingintahuan masyarakat mengenai hak pilih ternyata masih rendah. Berdasarkan pertanyaan dalam survei, sebanyak 63,5 persen responden menjawab sudah terdaftar sebagai pemilih, 3 persen belum terdaftar, dan 33,5 persen mengaku tidak tahu.
Dari 63,5 persen responden yang sudah terdaftar sebagai pemilih, hanya 0,75 persen yang berani memastikan sudah terdaftar sebagai pemilih tetap. Sebanyak 37 persen responden menyatakan telah terdaftar sebagai pemilih karena mendapatkan informasi dari orang lain. Lalu 62,25 persen mengaku sudah terdaftar karena pernah didaftar oleh petugas.
Untuk 3 persen responden yang menjawab belum terdafar sebagai pemilih tetap, mereka mengaku telah melakukan pengecekan dan menemukan nama mereka belum masuk daftar pemilih tetap (DPT). Sedangkan dari 33,5 persen responden yang menyatakan tidak mengetahui apakah sudah masuk DPT mengaku tidak melakukan pengecekan DPT.
"Dari situ terlihat, animo masyarakat untuk melakukan pengecekan terhadap DPT masih sangat rendah walau memang sebagian besar mengaku sudah masuk DPT," kata Said.
Menurut Direktur Lima, Ray Rangkuti, survei itu memperlihatkan bahwa KPU tidak memiliki inisiatif besar dalam melakukan sosialisasi pemilu. Dia menilai, pelaksanaan pemilu legislatif kurang lebih tinggal 50 hari lagi. Tetapi masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui pelaksanaan pemilu ini.
"Dari survei itu terlihat bahwa tingkat kepedulian masyarakat sangat rendah. Ini semua karena KPU juga tidak menunjukkan keinginan yang besar dalam melakukan sosialisasi pemilu," katanya.
Menurut Ray, KPU terlihat hanya mengutamakan masalah penerbitan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) menyangkut penetapan caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak. "Sosialisasi berbagai hal yang sudah pasti saja belum maksimal, apalagi jika nanti ditambah dengan terbitnya perppu yang pasti membutuhkan aturan baru," katanya.
Ray menyebutkan, dengan waktu yang semakin terbatas, terutama terkait sosialisasi pemilu, KPU lebih baik memfokuskan diri terhadap aturan yang telah ada. KPU tidak perlu memaksa meminta perppu. Ini tak hanya terkait persoalan waktu, tetapi juga aturan baru, sehingga KPU perlu juga memerlukan dana tambahan untuk sosialisasi. "Ini hanya buang-buang uang karena sosialisasi yang telah dilakukan menjadi sia-sia," ujarnya.
Beberapa waktu lalu KPU mengaku telah melakukan sosialisasi pemilu. KPU juga menyatakan akan lebih mengintensifkan sosialisasi pemilu legislatif sehingga diperkirakan tingkat partisipasi masyarakat dalam menggunakan hak pilih bisa mencapai 80 persen.
Menurut anggota KPU yang juga Ketua Divisi Sosialisasi Pemilu 2009 Endang Sulastri, sosialisasi pemilu dilakukan dengan menggunakan komunikasi media, tatap muka, dan mobilisasi pemilu.
KPU juga telah melakukan bimbingan teknis terhadap KPU provinsi maupun KPU kabupaten/kota di tujuh wilayah mengenai pemungutan dan penghitungan suara.
"KPU juga menjalin kerja sama dengan provider-provider menyangkut pengiriman pesan singkat pemilu yang isinya memuat tiga tema, yakni pentingnya pemilu, penandaan centang, dan imbauan bagi pemilih agar memilih pada 9 April 2009," ujarnya. (Tri Handayani)
Survei LIMA Banyak Pemilih Tak Tahu Kapan Pemilu
DETIK.COM
Sabtu, 21/02/2009 07:27 WIB
Survei LIMA
Banyak Pemilih Tak Tahu Kapan Pemilu
Moksa Hutasoit - detikPemilu
Jakarta - Lingkar Madani Untuk Indonesia (Lima) mengadakan survei tentang efektivitas sosialisasi pemilu. Dari 720 orang yang diwawancarai, 25 persen mengaku tidak tahu kapan pemilu akan dilaksanakan.
Survei dilakukan sejak tanggal 5-18 Februari 2009 di Jabodetabek. Dari 720 responden, 62 persennya adalah laki-laki, sedang sisanya adalah perempuan.
Usia responden berkisar antara 18-46 tahun dengan profesi pelajar, mahasiswa, pedagang, PNS, profesional dan ibu rumah tangga. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara tatap muka. Lima memastikan survei ini sampling errornya 0 persen.
Hasil survei itu sangatlah mencengangkan. Dengan waktu yang tinggal 50 hari lagi, responden yang mengetahui secara pasti waktu pelaksanaan pemilu, dengan menyebut secara tepat tanggal 9 April 2009, tidak mencapai angka 25 persen.
"Responden lebih banyak mengetahui atau dapat menyebutkan waktu pelaksanaan pemilu pada bulan April 2009," jelas Direktur Lima Said Salahudin dalam rilis yang diterima detikcom, Jumat (20/2/2009) malam.
Yang paling ironis, 30 persen responden justru tidak mengetahui sama sekali waktu pelaksanaan pemilu. Bahkan, ada beberapa responden dalam kelompok ini yang menyebut pelaksanaan Pemilu adalah bulan Oktober 2009.
Dengan demikian, dapat disimpulkan, KPU dan KPU daerah telah gagal dalam melakukan sosialisasi waktu pelaksanaan Pemilu kepada calon pemilih. Lima pun memprediksi tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu mendatang akan sangat rendah.
( mok / mok )
Sabtu, 21/02/2009 07:27 WIB
Survei LIMA
Banyak Pemilih Tak Tahu Kapan Pemilu
Moksa Hutasoit - detikPemilu
Jakarta - Lingkar Madani Untuk Indonesia (Lima) mengadakan survei tentang efektivitas sosialisasi pemilu. Dari 720 orang yang diwawancarai, 25 persen mengaku tidak tahu kapan pemilu akan dilaksanakan.
Survei dilakukan sejak tanggal 5-18 Februari 2009 di Jabodetabek. Dari 720 responden, 62 persennya adalah laki-laki, sedang sisanya adalah perempuan.
Usia responden berkisar antara 18-46 tahun dengan profesi pelajar, mahasiswa, pedagang, PNS, profesional dan ibu rumah tangga. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara tatap muka. Lima memastikan survei ini sampling errornya 0 persen.
Hasil survei itu sangatlah mencengangkan. Dengan waktu yang tinggal 50 hari lagi, responden yang mengetahui secara pasti waktu pelaksanaan pemilu, dengan menyebut secara tepat tanggal 9 April 2009, tidak mencapai angka 25 persen.
"Responden lebih banyak mengetahui atau dapat menyebutkan waktu pelaksanaan pemilu pada bulan April 2009," jelas Direktur Lima Said Salahudin dalam rilis yang diterima detikcom, Jumat (20/2/2009) malam.
Yang paling ironis, 30 persen responden justru tidak mengetahui sama sekali waktu pelaksanaan pemilu. Bahkan, ada beberapa responden dalam kelompok ini yang menyebut pelaksanaan Pemilu adalah bulan Oktober 2009.
Dengan demikian, dapat disimpulkan, KPU dan KPU daerah telah gagal dalam melakukan sosialisasi waktu pelaksanaan Pemilu kepada calon pemilih. Lima pun memprediksi tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu mendatang akan sangat rendah.
( mok / mok )
Foto Konfrensi Pers tentang survey
Langganan:
Postingan (Atom)

