SRIWIJAYA POST
SBY Harus Transparan soal Kandidat Menterinya
Sriwijaya Post - 2 September 2009
KOMPAS.COM/INGGRIED DW
JAKARTA — Presiden terpilih, Susilo Bambang Yudhoyono, mengaku telah mengantongi setidaknya 100 nama kandidat menteri yang akan mengisi kabinetnya bersama Boediono. Akan tetapi, tak jelas, kriteria seperti apa yang dikehendaki sang incumbent itu.
Partai-partai koalisi yang sebelumnya "galak" akhirnya mulai "kalem" dan menyerahkan sepenuhnya kepada SBY untuk menentukan, siapa yang dipilih sebagai pembantunya.
Masyarakat Indonesia untuk Oposisi, yang terdiri dari pengamat politik dan sejumlah tokoh masyarakat, mendesak SBY untuk transparan dalam memilih calon menteri. Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) Ray Rangkuti mengatakan, SBY harus belajar untuk transparan.
"SBY jangan tertutup, belajarlah membudayakan transparan terhadap kandidat menteri kabinetnya," kata Ray pada diskusi "Oposisi Suatu Keharusan", Selasa (1/9) di Jakarta.
Ia mengatakan, jika SBY membuka nama-nama kandidat, maka hal itu akan memberikan kesempatan bagi publik untuk memberikan masukan. "Sehingga nantinya yang terpilih adalah calon-calon terbaik," ujar dia.
Tokoh masyarakat Romo Beni Susetyo juga berpendapat serupa. Menurut dia, dengan membuka ke publik, maka masyarakat pun dapat melakukan uji kelayakan dan mengetahui rekam jejak para menteri yang akan bekerja selama lima tahun.
Adhi M Massardi mengatakan, cara-cara yang digunakan SBY lazim digunakan Soeharto pada masa Orde Baru. "Dulu, Soeharto juga melakukan itu. Menurut orang dekatnya, hal itu dilakukan agar yang dipilih tidak merasa dipilih karena punya kompetensi, tapi karena kebaikan hati Soeharto," kata Adhi.
Cara-cara seperti ini, menurut mereka, akan melemahkan demokrasi.
Kc
Tampilkan postingan dengan label kabinet 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kabinet 2009. Tampilkan semua postingan
Jumat, 23 Oktober 2009
Ray Rangkuti: Kabinet Baiknya 60-40%
MATA NEWS.COM

Ray Rangkuti: Kabinet Baiknya 60-40%
Headlines | Sun, Aug 23, 2009 at 08:51 | Jakarta, matanews.com
Direktur Lingkar Madani Untuk Indonesia, Ray Rangkuti mengemukakan, sebaiknyaa kabinet SBY-Boediono diisi oleh wakil partai dan kaum profesional. “Sebaiknya anggota kabinet perbandinganya 60% dari partai politik dan 40% dari profesinal/non partai,” ujarnya.
Ditambahkannya bahwa untuk posisi menteri yang terkait langsung dengan publik dan dianngap vital seperti menteri ekonomi, keuangan, pendidikan, perindustrian, perdagangan, dan ESDM sebaiknya ditangani oleh menteri dari kaum profesional saja.
Sedangkan untuk posisi menteri seperti menteri sosial, menteri pemberdayaan daerah tertingal, menteri pemuda dan olahrrga boleh diduduki wakil dari partai politik. “Penunjukkan menteri ini merupakan hak prerogratif presiden kita hargai itu,tapi kan setidaknya kita bisa menyarankan kepada presiden, mengenai komposisi menteri di kabinet yang akan segera dibentuk,” komentarnya.
Ray menambahkan bahwa dia tidak meremehkan kapasitas wakil dari partai politik yang ingin di posisi menteri yang diangap vital seperti yang sudah disebutkan di atas. Menurutnya dia memiliki alasan bahwa kalau kaum profesional di posisi itu, maka pengaruh kepentingan dari partai politik bisa sedikit ditekan.
“Kita menginginkan agar jangan sampai intervensi partai politik masuk dalam birokrasi pemerintahan, karena hal ini sangat berbahaya terhadap timbulnya kasus korupsi,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Sabtu.(*z/edy)

Ray Rangkuti: Kabinet Baiknya 60-40%
Headlines | Sun, Aug 23, 2009 at 08:51 | Jakarta, matanews.com
Direktur Lingkar Madani Untuk Indonesia, Ray Rangkuti mengemukakan, sebaiknyaa kabinet SBY-Boediono diisi oleh wakil partai dan kaum profesional. “Sebaiknya anggota kabinet perbandinganya 60% dari partai politik dan 40% dari profesinal/non partai,” ujarnya.
Ditambahkannya bahwa untuk posisi menteri yang terkait langsung dengan publik dan dianngap vital seperti menteri ekonomi, keuangan, pendidikan, perindustrian, perdagangan, dan ESDM sebaiknya ditangani oleh menteri dari kaum profesional saja.
Sedangkan untuk posisi menteri seperti menteri sosial, menteri pemberdayaan daerah tertingal, menteri pemuda dan olahrrga boleh diduduki wakil dari partai politik. “Penunjukkan menteri ini merupakan hak prerogratif presiden kita hargai itu,tapi kan setidaknya kita bisa menyarankan kepada presiden, mengenai komposisi menteri di kabinet yang akan segera dibentuk,” komentarnya.
Ray menambahkan bahwa dia tidak meremehkan kapasitas wakil dari partai politik yang ingin di posisi menteri yang diangap vital seperti yang sudah disebutkan di atas. Menurutnya dia memiliki alasan bahwa kalau kaum profesional di posisi itu, maka pengaruh kepentingan dari partai politik bisa sedikit ditekan.
“Kita menginginkan agar jangan sampai intervensi partai politik masuk dalam birokrasi pemerintahan, karena hal ini sangat berbahaya terhadap timbulnya kasus korupsi,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Sabtu.(*z/edy)
Senin, 14 September 2009
SBY Diminta Berani Lakukan Regenerasi Figur Kabinet Mendatang
RRI PRO3
SBY Diminta Berani Lakukan Regenerasi Figur Kabinet Mendatang
Selasa, 01 September 2009 16:03 PDF Cetak E-mail
Jakarta, Pengamat politik Ray Rangkuti mengingatkan Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono agar berani melakukan regenerasi dalam menetapkan figur-figur di kabinet pemerintahan 2009-2014 mendatang. Selain tidak terjebak politik dagang sapi, SBY menurutnya harus memprioritaskan kelompok profesional duduk di jabatan-jabatan strategis, agar tidak dibajak oleh kepentingan politik tertentu.
Pernyataan ini disampaikan Ray Rangkuti kepada pers di Jakarta, hari ini, mengomentari bentuk ideal kabinet pemerintahan yang akan dibentuk SBY selama periode 2009-2014. Menurut Ray Rangkuti, jabatan yang sebaiknya diserahkan kepada kalangan profesional antara lain Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, ataupun Menkopolkam.
Ia menilai, wajah kabinet mendatang idealnya dibentuk dalam komposisi 60 persen kalangan profesional, sementara 40 persennya diisi kader dari partai pendukung koalisi SBY-Boediono.
Selanjutnya, Ray Rangkuti sendiri berharap SBY tidak melibatkan partai-partai di luar koalisinya seperti PDI Perjuangan dan Partai Golkar dalam kabinet mendatang.
(Pro3 RRI/HF)
SBY Diminta Berani Lakukan Regenerasi Figur Kabinet Mendatang
Selasa, 01 September 2009 16:03 PDF Cetak E-mail
Jakarta, Pengamat politik Ray Rangkuti mengingatkan Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono agar berani melakukan regenerasi dalam menetapkan figur-figur di kabinet pemerintahan 2009-2014 mendatang. Selain tidak terjebak politik dagang sapi, SBY menurutnya harus memprioritaskan kelompok profesional duduk di jabatan-jabatan strategis, agar tidak dibajak oleh kepentingan politik tertentu.
Pernyataan ini disampaikan Ray Rangkuti kepada pers di Jakarta, hari ini, mengomentari bentuk ideal kabinet pemerintahan yang akan dibentuk SBY selama periode 2009-2014. Menurut Ray Rangkuti, jabatan yang sebaiknya diserahkan kepada kalangan profesional antara lain Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, ataupun Menkopolkam.
Ia menilai, wajah kabinet mendatang idealnya dibentuk dalam komposisi 60 persen kalangan profesional, sementara 40 persennya diisi kader dari partai pendukung koalisi SBY-Boediono.
Selanjutnya, Ray Rangkuti sendiri berharap SBY tidak melibatkan partai-partai di luar koalisinya seperti PDI Perjuangan dan Partai Golkar dalam kabinet mendatang.
(Pro3 RRI/HF)
Kamis, 27 Agustus 2009
Kader muda profesional parpol layak diakomodasi.
REPUBLIKA
Selasa, 25 Agustus 2009 pukul 01:11:00
SBY Mulai Rumuskan Kabinet
Kader muda profesional parpol layak diakomodasi.
JAKARTA -- Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah menugasi wakil presiden terpilih Boediono untuk menyusun rencana aksi dan kerangka kerja lima tahun ke depan. Bersamaan dengan itu, struktur kabinet mulai dirumuskan.
''Secara berkala, presiden dan Pak Boediono bertemu. Walaupun tidak harus hari apa, mereka membahas rencana aksi. Pak SBY menugaskan Pak Boediono untuk menyusun rencana aksi dan kerangka kerja ke depan dan melaporkannya ke presiden terpilih,'' kata Ketua DPP Partai Demokrat, Andi A Mallarangeng, Senin (24/8).
Menurutnya, kerangka aksi dan agenda kerja sedang disiapkan terus. Contohnya, pada Ahad kemarin, Boediono dan SBY di Cikeas membahasnya selama empat jam. ''Itu pun belum selesai. Mungkin nanti akan dilakukan terus.''
Dikatakannya, dalam satu-dua bulan ini, SBY-Boediono memfokuskan penyusunan pada kedua hal itu, termasuk program 100 hari pertama. Bersamaan dengan itu, kata Andi, struktur kabinet juga dibahas, termasuk orang-orang yang tepat sesuai kriteria yang tepat. Jadi, saat pelantikan presiden pada 20 Oktober 2009, para menteri pun sudah siap dilantik dan di hari itu siap bertugas.
''Beliau (SBY) ingin kabinet itu nanti mulai siap bekerja pada saat mereka dilantik. Jadi, berbagai langkah penyiapan, baik agenda aksi, rencana aksi, maupun struktur kabinet dan orang-orangnya itu disiapkan dalam masa dua bulan ini. Waktunya cuma beliau yang tahu.''Ketika ditanyakan soal nama kementerian akan berubah atau tidak, Andi belum mengetahuinya. Demikian juga soal pemanggilan calon-calon pengisi kabinet lima tahun mendatang. ''Belum. (Soal seleksi nama) saya belum tahu. Sedang disusun.''
Kalangan muda
Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia, Ray Rangkuti, melihat perlunya kalangan muda profesional di parpol yang diberi tempat di kabinet. Kalangan muda profesional diyakininya akan bisa berpikir dengan dilandasi gagasan reformasi. ''Mereka juga punya keberanian untuk mengeksekusi kebijakan,'' kata Ray, Senin (24/8).
Diungkapkannya, parpol pendukung SBY cukup memiliki kader muda profesional. Kata Ray, Partai Demokrat (PD) memiliki Anas Urbaningrum, PKS punya Zulkifliemansyah, PAN ada Zulkifli Hasan, dan PKB punya Muhaimin Iskandar. ''Mereka figur yang layak dipertimbangkan di kabinet.''Menurut Ray, dengan pengalaman di KPU, Anas bisa ditempatkan sebagai menteri dalam negeri (mendagri). Bisa pula ditempatkan sebagai menteri pemuda dan olahraga.
Sementara itu, Zulkifliemansyah bisa ditempatkan sebagai menristek. Kata Ray, sejauh ini belum ada menristek yang benar-benar menguasai bidangnya. ''Zulkifliemansyah punya keahlian itu. Setahu saya, dia dulu pernah jadi peneliti muda terbaik Indonesia yang diselenggarakan LIPI,'' ungkap dia.Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, mengatakan, kompetensi dan integritas adalah syarat mendasar bagi setiap menteri di kabinet mendatang. Dukungan politik hanyalah syarat nomor empat setelah kemampuan komunikasi.
''Dukungan politik itu bukan nomor satu, tapi nomor empat,'' tegas Qodari. Syarat pertama adalah kompetensi pada bidang yang dipercayakan, punya integritas, serta kemampuan komunikasi, baik ke kalangan internal maupun eksternal. Dijelaskan Qodari, menjalankan kebijakan publik yang bagus tidak hanya tergantung pada kualitas programnya. Tapi, juga kemampuan mengomunikasikannya untuk mendapat dukungan dari stakeholder.''Kalau kompeten, berintegritas, punya kemampuan komunikasi, lalu mendapat dukungan politik, itu baru bagus,'' tegas dia. wed/ann
(-)
Index Koran
Selasa, 25 Agustus 2009 pukul 01:11:00
SBY Mulai Rumuskan Kabinet
Kader muda profesional parpol layak diakomodasi.
JAKARTA -- Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah menugasi wakil presiden terpilih Boediono untuk menyusun rencana aksi dan kerangka kerja lima tahun ke depan. Bersamaan dengan itu, struktur kabinet mulai dirumuskan.
''Secara berkala, presiden dan Pak Boediono bertemu. Walaupun tidak harus hari apa, mereka membahas rencana aksi. Pak SBY menugaskan Pak Boediono untuk menyusun rencana aksi dan kerangka kerja ke depan dan melaporkannya ke presiden terpilih,'' kata Ketua DPP Partai Demokrat, Andi A Mallarangeng, Senin (24/8).
Menurutnya, kerangka aksi dan agenda kerja sedang disiapkan terus. Contohnya, pada Ahad kemarin, Boediono dan SBY di Cikeas membahasnya selama empat jam. ''Itu pun belum selesai. Mungkin nanti akan dilakukan terus.''
Dikatakannya, dalam satu-dua bulan ini, SBY-Boediono memfokuskan penyusunan pada kedua hal itu, termasuk program 100 hari pertama. Bersamaan dengan itu, kata Andi, struktur kabinet juga dibahas, termasuk orang-orang yang tepat sesuai kriteria yang tepat. Jadi, saat pelantikan presiden pada 20 Oktober 2009, para menteri pun sudah siap dilantik dan di hari itu siap bertugas.
''Beliau (SBY) ingin kabinet itu nanti mulai siap bekerja pada saat mereka dilantik. Jadi, berbagai langkah penyiapan, baik agenda aksi, rencana aksi, maupun struktur kabinet dan orang-orangnya itu disiapkan dalam masa dua bulan ini. Waktunya cuma beliau yang tahu.''Ketika ditanyakan soal nama kementerian akan berubah atau tidak, Andi belum mengetahuinya. Demikian juga soal pemanggilan calon-calon pengisi kabinet lima tahun mendatang. ''Belum. (Soal seleksi nama) saya belum tahu. Sedang disusun.''
Kalangan muda
Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia, Ray Rangkuti, melihat perlunya kalangan muda profesional di parpol yang diberi tempat di kabinet. Kalangan muda profesional diyakininya akan bisa berpikir dengan dilandasi gagasan reformasi. ''Mereka juga punya keberanian untuk mengeksekusi kebijakan,'' kata Ray, Senin (24/8).
Diungkapkannya, parpol pendukung SBY cukup memiliki kader muda profesional. Kata Ray, Partai Demokrat (PD) memiliki Anas Urbaningrum, PKS punya Zulkifliemansyah, PAN ada Zulkifli Hasan, dan PKB punya Muhaimin Iskandar. ''Mereka figur yang layak dipertimbangkan di kabinet.''Menurut Ray, dengan pengalaman di KPU, Anas bisa ditempatkan sebagai menteri dalam negeri (mendagri). Bisa pula ditempatkan sebagai menteri pemuda dan olahraga.
Sementara itu, Zulkifliemansyah bisa ditempatkan sebagai menristek. Kata Ray, sejauh ini belum ada menristek yang benar-benar menguasai bidangnya. ''Zulkifliemansyah punya keahlian itu. Setahu saya, dia dulu pernah jadi peneliti muda terbaik Indonesia yang diselenggarakan LIPI,'' ungkap dia.Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, mengatakan, kompetensi dan integritas adalah syarat mendasar bagi setiap menteri di kabinet mendatang. Dukungan politik hanyalah syarat nomor empat setelah kemampuan komunikasi.
''Dukungan politik itu bukan nomor satu, tapi nomor empat,'' tegas Qodari. Syarat pertama adalah kompetensi pada bidang yang dipercayakan, punya integritas, serta kemampuan komunikasi, baik ke kalangan internal maupun eksternal. Dijelaskan Qodari, menjalankan kebijakan publik yang bagus tidak hanya tergantung pada kualitas programnya. Tapi, juga kemampuan mengomunikasikannya untuk mendapat dukungan dari stakeholder.''Kalau kompeten, berintegritas, punya kemampuan komunikasi, lalu mendapat dukungan politik, itu baru bagus,'' tegas dia. wed/ann
(-)
Index Koran
Langganan:
Postingan (Atom)
