BERITA BARU.COM
Masyarakat Desak RI, "Ganyang Malaysia" Segera
Setiohutomo, Willy Widianto
Senin, 31 Agustus 2009 17:33
Jakarta, beritabaru.com - Hubungan Indonesia-Malaysia tampaknya semakin meruncing dan sejumlah tokoh pun terlecut rasa nasionalismenya untuk mendesak pemerintah Indonesia segera bersikap tegas pada Malaysia yang dinilai sidah menginjak-injak harga diri bangsa.
Salah satunya sejumlah tokoh yang tergabung dalam Bendera (Benteng Demokrasi Rakyat) dan kelompok ini bahkan ingin turun tangan sendiri untuk menghadapi Malaysia yang sudah dianggap keterlaluan.
"Jika Presiden SBY tak mau turun tangan, kita akan turun langsung melakukan gerakan oposisi rakyat"ujar Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti saat jumpa pers "Ganyang Malaysia" di Jalan Diponegoro 58, Jakarta, Senin(31/8).
Menurut Ray, saat ini pemerintah terlalu lembek dalam menyikapi sikap Malaysia yang sudah terlalu jauh bersikap menginjak-injak harga diri bangsa, untuk itulah Ray mengajak kepada seluruh tokoh-tokoh politik bergabung melawan Malaysia.
"Diserukan kepada tokoh politik supaya melakukan gerakan oposisi melawan Malaysia, "tegasnya.
Sementara itu, Anggota Dewan Penasehat Partai Gerindra, Permadi mengatakan sudah seharusnya Indonesia melakukan perang dengan Malaysia, pasalnya mereka telah menggerogoti budaya Indonesia.
"Kita seharusnya memproklamirkan perang karena bukan budaya yang diambil. Tetapi karena Indonesia-Malaysia adalah pemerintah Malaysia berani menantang kedaulatan Indonesia"tegasnya.
Ditegaskan Permadi, Malaysia sudah melakukan penghinaan pada kedaulatan dan kewibawaan Indonesia, tetapi pejabat Indonesia sangat lambat dan reaktif ketika ada sesuatu yang diambil. Malaysia berani mengklaim Ambalat, yang jelas-jelang melanggar perbatasan Indonesia.
"Kita tidak perlu takut kepada alutsista yang lebih hebat. Kita tidak perlu takut dengan pembiayaan Malaysia. Tentara Malaysia pengecut, gemuk-gemuk dan tidak pernah melakukan penembakan," imbuhnya.
Dalam kesempatan itu pula beberapa tokoh seperti Ketua Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia, Egy Sujana, Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti, Anggota Dewan Penasehat Partai Gerindra, Permadi ikut menandatangani deklarasi untuk menjadi relawan perang melawan Malaysia.
Tampilkan postingan dengan label oh malaysia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label oh malaysia. Tampilkan semua postingan
Jumat, 23 Oktober 2009
Kamis, 22 Oktober 2009
Konferensi Bendera Untuk Ganyang Malaysia
SERUU.COM
Konferensi Bendera Untuk Ganyang Malaysia
Utama | Nasional
Written by Redaksi Berita on Thursday, 03 September 2009 14:16
Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) kembali telah melakukan konferensi pers bersama empat pembicara yaitu Eggy Sudjana, Ketua majelis syuro persaudaraan pekerja muslim Indonesia, Ray Rangkuti dari Lingkar Madani Indonesia, Permadi, politisi Gerindra dan Suharto yang merupakan mantan jendral marinir. Keempat pembicara ini melakukan konferensi pers menyikapi masalah Indonesia dengan Malaysia yang akhir-akhir ini kembali mencuat karena kebudayaan Indonesia telah diklaim, TKI disiksa, lagu kebangsaan Indonesia dihina. Konferensi pers ini dilakukan di posko Bendera di jalan Diponegoro 58 Jakarta Pusat.
Permadi meminta SBY, Widodo AS (Menko Polkam) dan Menhan, Juwono Sudarsono serta panglima TNI, Joko Santoso untuk melakukan perang. "Malaysia telah menantang Indonesia, tapi, Pemerintah saat ini kurang responsif karena selalu mengajak Indonesia untuk berunding, padahal TNI pasti didukung oleh relawan mahasiswa dan paranormal jika berani perang dengan Malaysia," katanya. Sementara pada kesempatan yang sama, Suharto juga mengatakan, "Kedaulatan tidak bisa diperoleh hanya lewat perundingan saja, saat ini Malaysia sedang cari jati diri sebagai negara karena mereka negara yang belum berbudaya sehingga mereka ambil kebudayaan Indonesia. Sehingga mereka mengklaimnya, saya menyatakan siap untuk memakai peralatan perang tentaranya seperti dulu untuk mengganyang Malaysia," katanya.
Eggy Sudjana juga mengatakan, "Malaysia berani karena pemerintah Indonesia loyo, peserta pers harusnya mengkampanyekan lewat media untuk keseluruhan masyarakat Indonesia untuk menduduki Kadubes Malaysia serta melakukan personal non brata ke duta besar Malaysia." ketusnya. Ray Rangkuti berpendapat bahwa, "hari ini adalah hari dimana Malaysia mendapat kemerdekaan dari Inggris karena Malaysia tidak pernah berperang untuk merebut kemerdekaannya sendiri. Malaysia saat ini adalah Negara dengan tipikal mengalami kebangkrutan sehingga mereka mengklaim kebudayaan Indonesia beserta pulau Indonesia untuk di kampanyekan sebagai pariwisata di Malaysia." tegasnya. Ray mengatakan bahwa ada 3 poin terhadap militasi pemerintahan SBY saat ini. Antara lain:
1. SBY menganggap bahwa masa pemerintahannya adalah masa kampanye sehingga ingin lurus saja tanpa ada hambatan.
2. SBY menggunakan issue Internasional untuk menuduh warga Indonesia yang anti pemerintah SBY.
3. Lima tahun kedepan Indonesia akan mengalami masa surau karena partai sekarang mendukung pemerintahan untuk mendapatkan kekuasaan sehingga tidak ada oposisi.
Selain itu, Bendera juga menyerukan agar rakyat Indonesia menjadi oposisi terhadap kekuasaan dan agar mengkampanyekan seluruh masyarakat untuk memasang Bendera pada kendaraan agar tidak di sweeping oleh Bendera. Dalam konferensi pers ini ditutup dengan menyanyikan lagu Indonesia dan sambil melakukan pengisian formulir siap menjadi relawan untuk mengganyang Malaysia.[NDN]
Konferensi Bendera Untuk Ganyang Malaysia
Utama | Nasional
Written by Redaksi Berita on Thursday, 03 September 2009 14:16
Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) kembali telah melakukan konferensi pers bersama empat pembicara yaitu Eggy Sudjana, Ketua majelis syuro persaudaraan pekerja muslim Indonesia, Ray Rangkuti dari Lingkar Madani Indonesia, Permadi, politisi Gerindra dan Suharto yang merupakan mantan jendral marinir. Keempat pembicara ini melakukan konferensi pers menyikapi masalah Indonesia dengan Malaysia yang akhir-akhir ini kembali mencuat karena kebudayaan Indonesia telah diklaim, TKI disiksa, lagu kebangsaan Indonesia dihina. Konferensi pers ini dilakukan di posko Bendera di jalan Diponegoro 58 Jakarta Pusat.
Permadi meminta SBY, Widodo AS (Menko Polkam) dan Menhan, Juwono Sudarsono serta panglima TNI, Joko Santoso untuk melakukan perang. "Malaysia telah menantang Indonesia, tapi, Pemerintah saat ini kurang responsif karena selalu mengajak Indonesia untuk berunding, padahal TNI pasti didukung oleh relawan mahasiswa dan paranormal jika berani perang dengan Malaysia," katanya. Sementara pada kesempatan yang sama, Suharto juga mengatakan, "Kedaulatan tidak bisa diperoleh hanya lewat perundingan saja, saat ini Malaysia sedang cari jati diri sebagai negara karena mereka negara yang belum berbudaya sehingga mereka ambil kebudayaan Indonesia. Sehingga mereka mengklaimnya, saya menyatakan siap untuk memakai peralatan perang tentaranya seperti dulu untuk mengganyang Malaysia," katanya.
Eggy Sudjana juga mengatakan, "Malaysia berani karena pemerintah Indonesia loyo, peserta pers harusnya mengkampanyekan lewat media untuk keseluruhan masyarakat Indonesia untuk menduduki Kadubes Malaysia serta melakukan personal non brata ke duta besar Malaysia." ketusnya. Ray Rangkuti berpendapat bahwa, "hari ini adalah hari dimana Malaysia mendapat kemerdekaan dari Inggris karena Malaysia tidak pernah berperang untuk merebut kemerdekaannya sendiri. Malaysia saat ini adalah Negara dengan tipikal mengalami kebangkrutan sehingga mereka mengklaim kebudayaan Indonesia beserta pulau Indonesia untuk di kampanyekan sebagai pariwisata di Malaysia." tegasnya. Ray mengatakan bahwa ada 3 poin terhadap militasi pemerintahan SBY saat ini. Antara lain:
1. SBY menganggap bahwa masa pemerintahannya adalah masa kampanye sehingga ingin lurus saja tanpa ada hambatan.
2. SBY menggunakan issue Internasional untuk menuduh warga Indonesia yang anti pemerintah SBY.
3. Lima tahun kedepan Indonesia akan mengalami masa surau karena partai sekarang mendukung pemerintahan untuk mendapatkan kekuasaan sehingga tidak ada oposisi.
Selain itu, Bendera juga menyerukan agar rakyat Indonesia menjadi oposisi terhadap kekuasaan dan agar mengkampanyekan seluruh masyarakat untuk memasang Bendera pada kendaraan agar tidak di sweeping oleh Bendera. Dalam konferensi pers ini ditutup dengan menyanyikan lagu Indonesia dan sambil melakukan pengisian formulir siap menjadi relawan untuk mengganyang Malaysia.[NDN]
Rabu, 02 September 2009
SBY Dimita Tegas Hadapi Malaysia
RADAR CIREBON
SBY Dimita Tegas Hadapi Malaysia
Tuesday, 01 September 2009
JAKARTA - Gelombang sikap antipati terhadap Malaysia terus berdatangan. Kali ini sikap tegas dilontarkan sejumlah elemen masyarakat. Anggota Dewan Pembina Gerindra Permadi, Ketua Dewan Syuro Persatuan Pekerja Muslim Indonesia Eggy Sujana, dan Direktur Lingkar Madani untuk Indoensia Ray Rangkuti sekata meminta pemerintah bertindak tegas terhadap Malaysia. Jika tidak, mereka siap berperang. Sikap tersebut disampaikan di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, kemarin.
Sebagai langkah awal sikap tegas, hari ini rencananya mereka akan mendatangi Kedutaan Malaysia. “Kami akan datangi Kedutaan Malaysia. Kami akan kumpulkan tanda tangan setuju atau tidak berperang. Kami akan ambil alih dan duduki Kedutaan Malaysia terlebih dahulu,” ujar Eggy Sujana.
Menurutnya, keberanian Malaysia mengoyak kedaulatan Indonesia lantaran sikap pemerintahan SBY saat ini dianggap lemah. Karena itu, jika dalam waktu 2 x 24 jam pemerintah tidak bertindak tegas, pihaknya akan mengumpulkan massa dan mengajak berperang melawan Malaysia. “Lawan Malaysia. Karena pemerintah tak memiliki kekuasaan,” jelasnya.
Permadi menganggap hubungan Indonesia-Malaysia mencapai titik klimaks. “Selama ini selalu kita biarkan. Hutan ditebang, TKI dianiyaya, Ambalat direbut, dan batas-batas perairan dilanggar, kita diam. Tapi, sekarang tarian dan kebudayaan juga diakui mereka. Ini menantang kedaulatan kita,” cetusnya.
Karena itu, pihaknya sepakat melawan Malaysia. Sebab, selama ini TNI dianggap tak tegas ketika sejumlah pelanggaran dilakukan Malaysia. “Kalau ada yang melanggar batas, kita tembak saja. Ganyang Malaysia,” ujarnya. Pihaknya menilai tindakan pemerintah Indonesia terhadap Malaysia tidak konkret.
Ray Rangkuti memprediksi, dalam kurun 304 tahun mendatang, Malaysia akan mengalami kebangkrutan. “Oposisi mencuat. Sentimen etnis akan terus menguat. Itu akan menjadi ciri hancurnya sebuah negara,” cetusnya. Jika hal itu terjadi, Indonesia harus segera mengambil momentum dengan menunjukkan kekuatan dan kewibawaan pemerintahan.
“Presiden jangan hanya bergerak jika kepentingan pribadinya diganggu. Saatnya bertindak tegas,” sebutnya. (kit/oki)
SBY Dimita Tegas Hadapi Malaysia
Tuesday, 01 September 2009
JAKARTA - Gelombang sikap antipati terhadap Malaysia terus berdatangan. Kali ini sikap tegas dilontarkan sejumlah elemen masyarakat. Anggota Dewan Pembina Gerindra Permadi, Ketua Dewan Syuro Persatuan Pekerja Muslim Indonesia Eggy Sujana, dan Direktur Lingkar Madani untuk Indoensia Ray Rangkuti sekata meminta pemerintah bertindak tegas terhadap Malaysia. Jika tidak, mereka siap berperang. Sikap tersebut disampaikan di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, kemarin.
Sebagai langkah awal sikap tegas, hari ini rencananya mereka akan mendatangi Kedutaan Malaysia. “Kami akan datangi Kedutaan Malaysia. Kami akan kumpulkan tanda tangan setuju atau tidak berperang. Kami akan ambil alih dan duduki Kedutaan Malaysia terlebih dahulu,” ujar Eggy Sujana.
Menurutnya, keberanian Malaysia mengoyak kedaulatan Indonesia lantaran sikap pemerintahan SBY saat ini dianggap lemah. Karena itu, jika dalam waktu 2 x 24 jam pemerintah tidak bertindak tegas, pihaknya akan mengumpulkan massa dan mengajak berperang melawan Malaysia. “Lawan Malaysia. Karena pemerintah tak memiliki kekuasaan,” jelasnya.
Permadi menganggap hubungan Indonesia-Malaysia mencapai titik klimaks. “Selama ini selalu kita biarkan. Hutan ditebang, TKI dianiyaya, Ambalat direbut, dan batas-batas perairan dilanggar, kita diam. Tapi, sekarang tarian dan kebudayaan juga diakui mereka. Ini menantang kedaulatan kita,” cetusnya.
Karena itu, pihaknya sepakat melawan Malaysia. Sebab, selama ini TNI dianggap tak tegas ketika sejumlah pelanggaran dilakukan Malaysia. “Kalau ada yang melanggar batas, kita tembak saja. Ganyang Malaysia,” ujarnya. Pihaknya menilai tindakan pemerintah Indonesia terhadap Malaysia tidak konkret.
Ray Rangkuti memprediksi, dalam kurun 304 tahun mendatang, Malaysia akan mengalami kebangkrutan. “Oposisi mencuat. Sentimen etnis akan terus menguat. Itu akan menjadi ciri hancurnya sebuah negara,” cetusnya. Jika hal itu terjadi, Indonesia harus segera mengambil momentum dengan menunjukkan kekuatan dan kewibawaan pemerintahan.
“Presiden jangan hanya bergerak jika kepentingan pribadinya diganggu. Saatnya bertindak tegas,” sebutnya. (kit/oki)
Senin, 31 Agustus 2009
Besok, Kedutaan Besar Malaysia Akan Didemo
TEMPO INTERAKTIF
Besok, Kedutaan Besar Malaysia Akan Didemo
Senin, 31 Agustus 2009 | 17:49 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta akan didemo esok hari.
"Besok, kami akan menduduki Kedutaan Malaysia dan meminta duta besarnya pulang," ujar Eggy Sujana, Ketua Dewan Syuro Persatuan Pekerja Muslim Indonesia di Jalan Diponegoro No.58 Jakarta, Senin (31/8)
Seharusnya, kata Eggy, hari ini adalah hari yang tepat untuk berunjuk rasa ke kedutaan karena bersamaan dengan hari kemerdekaan Malaysia. Tapi pihaknya perlu koordinasi untuk berunjuk rasa agar tidak disusupi massa yang tidak jelas. Pihaknya menyatakan siap mengambil alih kedutaan Malaysia.
Pernyataan dan sikap Malaysia selama ini, Eggy menambahkan, bergantung dengan kualitas bangsa Indonesia. "Malaysia menjadi berani, karena kualitas Indonesia menurun, terutama pemerintahnya," ia mengeluhkan.
Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Permadi menyayangkan sikap pemerintag yang terkesan pragmatis dan sektoral terhadap klaim dan tindakan pemerintah Malaysia. "Pemerintah bereaksi kalau ada yang direbut,"jelasnya.
Padahal sikap Malaysia terhadap Indonesia sudah jelas menghina kedaulatan dan kewibawaan. Terlihat dari pencurian seni budaya, klaim patok perbatasan, masalah tenaga kerja hingga pulau ambalat.
Ray Rangkuti, Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia, memprediksi Malaysia nantinya dalam 3-4 tahun mendatang justru akan mengalami kebangkrutan. "Oposisi mencuat, sentimen etnis menguat, itu ciri hancurnya sebuah negara," jelasnya.
Maka pemerintah Indonesia harus segera mengambil momentum ini dengan menunjukkan kekuatan dan kewibawaan pemerintahannya terhadap negara lain. " Presiden jangan hanya bergerak jika kepentingan pribadinya diganggu," ucapnya.
DIANING SARI
Besok, Kedutaan Besar Malaysia Akan Didemo
Senin, 31 Agustus 2009 | 17:49 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta akan didemo esok hari.
"Besok, kami akan menduduki Kedutaan Malaysia dan meminta duta besarnya pulang," ujar Eggy Sujana, Ketua Dewan Syuro Persatuan Pekerja Muslim Indonesia di Jalan Diponegoro No.58 Jakarta, Senin (31/8)
Seharusnya, kata Eggy, hari ini adalah hari yang tepat untuk berunjuk rasa ke kedutaan karena bersamaan dengan hari kemerdekaan Malaysia. Tapi pihaknya perlu koordinasi untuk berunjuk rasa agar tidak disusupi massa yang tidak jelas. Pihaknya menyatakan siap mengambil alih kedutaan Malaysia.
Pernyataan dan sikap Malaysia selama ini, Eggy menambahkan, bergantung dengan kualitas bangsa Indonesia. "Malaysia menjadi berani, karena kualitas Indonesia menurun, terutama pemerintahnya," ia mengeluhkan.
Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Permadi menyayangkan sikap pemerintag yang terkesan pragmatis dan sektoral terhadap klaim dan tindakan pemerintah Malaysia. "Pemerintah bereaksi kalau ada yang direbut,"jelasnya.
Padahal sikap Malaysia terhadap Indonesia sudah jelas menghina kedaulatan dan kewibawaan. Terlihat dari pencurian seni budaya, klaim patok perbatasan, masalah tenaga kerja hingga pulau ambalat.
Ray Rangkuti, Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia, memprediksi Malaysia nantinya dalam 3-4 tahun mendatang justru akan mengalami kebangkrutan. "Oposisi mencuat, sentimen etnis menguat, itu ciri hancurnya sebuah negara," jelasnya.
Maka pemerintah Indonesia harus segera mengambil momentum ini dengan menunjukkan kekuatan dan kewibawaan pemerintahannya terhadap negara lain. " Presiden jangan hanya bergerak jika kepentingan pribadinya diganggu," ucapnya.
DIANING SARI
Langganan:
Postingan (Atom)
