Tampilkan postingan dengan label uji publik aktivis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uji publik aktivis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Februari 2009

Nunggak SPP Anak

Nunggak SPP Anak


Sriwijaya Post - 2/2/2009 7:15 WIB

UNTUK menjadi calon anggota legislatif (caleg), tentunya memerlukan dana puluhan hingga miliaran rupiah untuk membiayai kampanye. Dana itu biasanya digunakan untuk membiayai pencetakan materi kampanye, seperti spanduk dan brosur, biaya transportasi, dan lainnya.

Namun, caleg dari Partai Kebangkitan Bangsa Iwan Dwi Laksono, mengatakan baru mengeluarkan uang Rp 7 juta untuk membiayai keperluan kampanyenya.

“Itu pun, Rp 3 jutanya dari ibu saya, yang membantu mencetak kalender. Sebenarnya saya malu mengatakan hal ini. Mungkin, saya caleg termiskin dari yang ada di sini,” ujarnya pada Uji Publik Visi Masa Depan Caleg Aktivis dan Kaum Muda, Minggu (1/2) di Jakarta.

Ketika ditanya mengenai nilai kekayaannya, Iwan mengaku tidak memiliki apa pun.
“Saya kos di daerah Pasar Minggu. Di dalamnya hanya ada TV dan DVD. Itu pun harganya cuma Rp 100.000, karena dijual oleh mahasiswa yang memerlukan uang,” katanya.

Caleg dari Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDIP) Budiman Sudjatmiko lain lagi. Dia mengaku telah menunggak biaya sekolah anaknya yang masih duduk di kursi playgroup selama dua bulan. Walaupun tidak menyebut angka secara gamblang, dia mengatakan membutuhkan dana publik sekitar Rp 100 juta.

Sementara itu, caleg dari Partai Demokrat (PD) Nova Riyanti Yusuf mengaku telah mengeluarkan uang sekitar Rp 100 juta.

“Saya lebih banyak mengeluarkan uang untuk dialog-dialog. Modal saya tidak banyak,” ujarnya tanpa menyebutkan angka pastinya.

Lain lagi dengan caleg dari Partai Amanat Nasional (PAN) Asep Supriana, yang telah menggelontorkan dana kampanyenya Rp 75 juta. Sekitar Rp 30 juta di antaranya berasal dari tabungannya, sementara sisanya hasil urunan keluarga.

“Tadinya saya mau cicil apartemen bersubsidi. Tapi nggak jadi,” katanya.
Sementara itu caleg dari Partai Persatuan Pembangunan (P3) Ahmad Kamal dan caleg dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Rama Pratama memilih bungkam.

“Yang penting adalah darimana dana itu berasal,” ujar Rama.

Setor Norek

Sementara itu, KPU Pusat mensyaratkan setiap caleg harus menyetorkan nomor rekening ke KPU. Nomor rekening dari para caleg tersebut akan didata dan dipantau. Hal ini bertujuan untuk melihat kesesuaian dana yang dimiliki masing-masing caleg untuk membiayai kampanyenya.

Demikian diungkapkan Anggota KPU Pusat, Dra Andi Nurpati Baharuddin, MPd kepada Sripo, Sabtu (31/1).

“Jadi setiap caleg menyerahkan nomor rekeningnya dan nantinya setelah pemilu akan diaudit dan dicek sesuai tidak untuk dana kampanye. Hal ini juga merupakan tugas dari Banwaslu untuk memberikan saksi kepada mereka yang melanggar,” kata Andi.
Menurutnya, dari rekening itu akan diaudit seluruh biaya-biaya kampanye yang digunakannya.

Mencoba Meretas Caleg Berkualitas


Jitet



KOMPAS

Kamis, 5 Pebruari 2009

Mencoba Meretas Caleg Berkualitas


TINGGAL sekitar dua bulan lagi waktu yang tersisa bagi rakyat untuk menimbang-nimbang siapa yang layak dan pantas mewakilinya di DPR, DPD, dan DPRD. Siapa yang berhak menyandang sebutan wakil rakyat yang terhormat.

Perkara ini tentu tak mudah. Pasalnya, yang mencalonkan diri banyak, sedangkan kursi tersedia sedikit. Ada 11.301 orang yang mencalonkan diri dan yang tersedia hanya 560 kursi. Sampai kini Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga belum memublikasikan rekam jejak caleg.

Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia Ray Rangkuti dan Direktur Eksekutif CIRUS Surveyors Group Andrinof A Chaniago mencoba menjawab persoalan itu. Minggu (1/2), mereka menggelar uji publik bagi caleg, khususnya yang berlatar belakang aktivis. Acara tak digelar di hotel bintang lima, tetapi di sebuah rumah makan sederhana.

Caleg yang diuji umumnya belum pernah menjadi anggota DPR. Mereka adalah Ahmad Wakil Kamal dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Budiman Sudjatmiko (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), Iwan Dwi Laksono (Partai Kebangkitan Bangsa), Nova Rianti Yusuf (Partai Demokrat), dan Asep Supriyatna (Partai Amanat Nasional). Ada pula yang masih menjabat, yaitu Rama Pratama (Partai Keadilan Sejahtera).

Penguji, selain Andrinof, ada juga Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Chalid Muhammad. Hadir juga sejumlah aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), seperti dari Indonesia Corruption Watch (ICW), Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras), LSM peduli masyarakat miskin, dan pers.

”Kita perlu memerhatikan caleg unggul. Dengan cara seperti ini, kampanye tak terfokus pada uang. Kita juga mendorong caleg idealis yang miskin. Mudah-mudahan cara ini bisa diadopsi di banyak daerah,” papar Ray lagi.

Menakar komitmen

Cara yang tepat untuk menilai seorang politisi memang tidak cukup dari mendengar kata-kata atau janji yang diucapkannya, tetapi mengingat sejauh mana tindakan yang dilakukannya. Namun, uji publik seperti ini paling tidak dapat menakar sejauh mana komitmen mereka.

Dari uji publik itu, Ridaya Laodengkowe, selaku moderator, paling tidak mampu mendorong caleg mengungkapkan apa yang akan dikerjakan nanti. Komitmen mereka dapat diukur dan ditagih nanti.

Sebagai seorang pendiri Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), Iwan berniat mencabut semua undang-undang (UU) yang menghilangkan proses kemandirian, seperti UU Pertambangan Mineral dan Batu Bara atau UU Badan Hukum Pendidikan.

Kamal mempunyai komitmen sama. ”Nanti tidak ada lagi UU yang memihak kepentingan asing,” kata mantan advokat itu.

Nova mempunyai target yang lebih spesifik. Sebagai seorang psikiater, dia berniat membuat UU yang terkait dengan kesehatan. Dia juga akan mengawal anggaran kesehatan yang sangat besar jumlahnya agar sampai ke rakyat miskin.

Sebagai aktivis 1998 yang menentang rezim Soeharto, Budiman bahkan telah menyusun matriks agenda perubahan nasional di legislatif berdasarkan Trisakti, yaitu berdikari secara ekonomi, berdaulat secara politik, dan berkepribadian secara budaya.

Adapun Rama, yang sudah merasakan sebagai anggota DPR, berniat mempersatukan aktivis di DPR. ”Lawan kita itu bukan dari partai lain, tetapi juga dari partai sendiri yang tidak setuju ide progresif,” tegasnya.

Dari forum ini juga bisa dilihat sejauh mana niat caleg untuk transparan dalam hal keuangan ataupun keberaniannya melawan hegemoni partai. Hal itu dibuktikan dengan keberaniannya mengkritik elite partainya masing-masing.

Mengenai dana kampanye, Nova, meski ragu-ragu, akhirnya mengakui sudah menghabiskan uang Rp 100 juta-Rp 150 juta.

Budiman lebih terang-terangan. Dia mengaku menghabiskan Rp 150 juta untuk kampanye. Bahkan, dua bulan ini tidak bisa membiayai anaknya di playgroup. Dia juga terpaksa mengontrak rumah. Hal itu dilakukan semata-mata untuk memperjuangkan idealismenya. Anggota DPR adalah jabatan publik karena itu ia pun menghimpun dana publik dan diumumkan secara terbuka.

Asep mengaku menghabiskan Rp 75 juta untuk kampanye. Tetapi, dia juga sudah habis-habisan. Kini, modal tabungannya tinggal tersisa Rp 30 juta. ”Mau nyicil apartemen bersubsidi tidak jadi,” paparnya.

Biaya yang dikeluarkan Kamal lebih kecil. Dia mengaku menghabiskan Rp 50 juta. Dia pun berkomitmen setelah menjadi anggota DPR akan tetap menjadi orang yang sederhana. ”Jangan khawatir saya menjadi caleg yang hedonis,” tegasnya.

Iwan mengaku baru mengeluarkan Rp 7 juta untuk kampanye. ”Itu pun Rp 3 juta dari ibu. Kalau dibilang bonek (bondo nekat), saya bonek,” ucapnya. Namun, dia tidak pesimistis karena yakin rakyat di sekitarnya tahu komitmennya memperjuangkan rakyat, salah satunya mengadvokasi korban Lapindo.

Sikap Rama lain lagi. Dia justru tidak sependapat kalau aktivis harus kompetisi dalam kemiskinan. ”Bukan kaya atau miskin, tetapi yang penting dari mana dapat hartanya,” katanya. Namun, ia tidak menyebutkan biaya kampanye yang dihabiskan dan kekayaannya saat ini. (Sutta Dharmasaputra)

Senin, 02 Februari 2009

Pidato Megawati dibuat oleh anak muda

WASPADA ONLINE

Pidato Megawati dibuat oleh anak muda

Sunday, 01 February 2009 19:09 WIB


JAKARTA - Sama seperti Presiden ke-44 Amerika Serikat Barack Hussein Obama, yang pidato upacara pelantikannya ditulis oleh seorang anak muda bernama Jon Favreau (27), pidato Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri, khususnya mengenai penurunan harga BBM baru-baru ini, dibuat oleh anak muda.

Demikian disampaikan calon anggota legislatif (caleg) Budiman Sudjatmiko dari PDIP pada acara Uji Publik Visi Masa Depan Caleg Aktivis dan Kaum Muda, tadi siang, di Jakarta.

"Dan yang disampaikan adalah berdasarkan fakta," ujar Budiman menanggapi pertanyaan dari caleg Novi Riyanti Yusuf dari Partai Demokrat mengenai pembuat naskah pidato tersebut.

Menanggapi cibiran beberapa pihak yang mengatakan bahwa PDIP merupakan partai feodal, yang semuanya tergantung dari ketua umum, Budiman tidak menampiknya. "Namun, kami sedang bertransformasi dari organisasi kharismatik menjadi organisasi modern. We are working on it," ujarnya.
(sit/pas)

Dokumentasi Uji Publik




Detik.Com

Uji Publik Visi Masa Depan Caleg Aktvis dan Kaum Muda,
Minggu 1 Pebruari 2009, Senen, Jakarta

Agenda Caleg Muda: Bunuh Feodalisme Partai

CALON LEGISLATIF INDONESIA

Agenda Caleg Muda: Bunuh Feodalisme Partai


Mantan aktivis mahasiswa yang dulunya pernah turun ke jalan kini siap-siap merebut kursi calon legislatif di Dewan Perwakilan Rakyat. Mereka pun memiliki agenda utama yang segera dilakukan.

"Agenda utama para caleg muda adalah membunuh feodalisme di partai masing-masing," ujar mantan aktivis yang kini akan kembali bertarung menjadi caleg, Rama Pratama, dalam diskusi Uji Publik Visi Masa Depan Caleg Aktivis dan Kaum Muda, di Senen, Jakarta Pusat, Minggu 1 Februari 2009.

Rama yang kini masih duduk di legislatif dari Partai Keadilan Sejahtera ini menegaskan, para politisi muda akan lebih progresif dibanding orang tua. Rama pun menegaskan kembali agenda legislatif ke depan.

"Agenda ke depan, rakyat perlu mempertanyakan dua hal kepada calon pimpinan," ujar Rama. Dua agenda yang dimaksud Rama yakni, siapa saja menteri yang akan diusung partai terkuat. Yang kedua adalah soal anggaran dana kampanye.

Dalam acara ini tampak juga hadir aktivis lainnya. Mereka antara lain Budiman Sujatmiko, Iwan Dwi Laksono mantan aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi, Nova Riyanti Yusuf, dan Ahmad Wakil Kamal mantan aktivis Ikatan Mahasiswa hukum Indonesia. [Ismoko Widjaya, Fadila Fikriani Armadita]

Sumber: www.vivanews.com

Minggu, 01 Februari 2009

VIVAnews

Pidato 'Yoyo' Megawati Diracik Anak MudaDalam membuat pidato 'Yoyo', Megawati tidak didampingi konsultan bahasa.

Minggu, 1 Februari 2009, 12:48 WIBI

Ismoko Widjaya, Fadila Fikriani Armadita

VIVAnews - Pidato 'Yoyo' Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri merupakan yang kedua setelah 'Poco-poco'. Tapi, siapakah sosok di balik pidato Megawati yang terus mengkritik kinerja pemerintah dengan istilah dan perumpamaan itu.

"Yang buat itu adalah anak-anak muda," ujar politisi PDI Perjuangan yang juga mantan aktivis, Budiman Sujatmiko, dalam diskusi Uji Publik Visi Masa Depan Caleg Aktivis dan Kaum Muda, di Senen, Jakarta Pusat, Minggu 1 Februari 2009.

Kendati demikian Budiman enggan menyebutkan secara spesifik siapa pembuat pidato yang kontroversial itu. Budiman mengakui, pembuatan pidato yang menyindir kebijakan pemerintah soal kenaikan harga BBM ibarat Yoyo itu, tidak didampingi dengan konsultan bahasa. Megawati juga tidak memiliki konsultan khusus soal gaya bicara.

"Yang penting adalah substansi isi pidatonya," ujar Budiman Sujatmiko yang kini menjadi calon legislatif itu. Seperti diketahui, dalam pidato di Rapat Kerja Nasional PDI Perjuangan, Megawati menyentil kinerja pemerintah yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono.

Mendapat kritikan itu, kubu Yudhoyono, yang disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat, Andi Mallarangeng pun menjawab. Andi menilai, jurus yang digunakan Megawati tidak berubah sejak Pemilu 2004.
MEDIA INDONESIA

Senin, 2 Februari 2009

INDONESIA MEMILIH



KOMITMEN: Caleg Muda Dituntut Ubah Citra DPR

JAKARTA (Lampost): Calon anggota legislatif (caleg) muda pada Pemilu 2009 harus membawa perubahan bagi rakyat secara menyeluruh. Termasuk menghilangkan segala bentuk penyelewengan yang menjadi catatan hitam parlemen.

Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia Ray Rangkuti menyampaikan hal itu dalam acara Uji Publik Visi Caleg Aktivis dan Kaum Muda di Jakarta, kemarin. "Perubahan itu harus dilakukan oleh caleg muda dan harus dipertanggungjawabkan di parlemen ketika sudah terpilih," tegas Ray. Menurut dia, caleg muda juga harus diikutsertakan untuk mencalonkan diri lagi.

Dia meminta para caleg muda mempertanggungjawabkan visi dan misi selama proses sosialisasi hingga di parlemen. "Bila terpilih, mereka harus mewujudkan visi karena bila tidak akan mempersulit perkembangan Indonesia 5 hingga 10 tahun ke depan," cetusnya.

Ray menyatakan perlunya komitmen dan sistem yang mendukung sehingga kinerja dapat diwujudkan sesuai harapan masyarakat. "Bila lalai, dapat di-recall," kata dia.

Hadir dalam acara itu enam caleg muda, yaitu Rama Pratama (PKS), Budiman Sujatmiko (PDI-P), Asep Supriatna (PAN), Iwan D. Laksono (PKB), Nova Riyanti Yusuf (PD), dan Ahmad Kamal (PPP).

Saat menyampaikan visinya, anggota Komisi XI DPR yang kembali mencalonkan diri, Rama Pratama, menyatakan pihaknya menjadikan pemberantasan korupsi sebagai agenda. "Melalui kinerja partai, kami akan bersama-sama memikirkan masalah sosial di masyarakat. Kami dapat mereformasi agenda parlemen."

Sementara itu, Nova Riyanti dari Partai Demokrat mengaku untuk kepentingan pencalonan, dia telah mengeluarkan Rp100 juta untuk sosialisasi. "Saya merasa dana ini masih jauh ketimbang para legislator yang ikut kembali mencalonkan diri," kata dia.

Pakar kebijakan publik UI Andrinof Chaniago menilai para caleg muda tersebut harus menanamkan komitmen dalam mengambil keputusan dan kebijakan bila duduk di DPR. Gerakan-gerakan fraksionis, kata dia, harus dihilangkan untuk menentukan arah yang berpihak kepada kepentingan umum. "Bila tidak menepati janji, sebaiknya tidak perlu duduk di parlemen. Memang uang dan jaringan sosial secara primordial bisa membantu," tegasnya. n MI/U-2
TRIBUN JABAR

SBY Perfeksionis, Mega Emosional, SB Manjakan Artis Minggu, 1

Februari 2009 | 15:55 WIB

JAKARTA, MINGGU — Beberapa calon anggota legislatif (caleg) yang hadir dalam Uji Publik Visi Masa Depan Caleg Aktivis dan Kaum Muda, Minggu (1/2) di Jakarta, berani buka-bukaan mengenai dosa atau keburukan ketua umum atau ketua dewan pembina partai mereka ketika ditanya salah seorang wartawan.

Menurut caleg Nova Riyanti Yusuf dari Partai Demokrat, dosa dari Ketua Dewan Pembina PD Susilo Bambang Yudhoyono adalah dorongan terhadap kesempurnaan. "Beliau mempunyai dorongan bahwa segala sesuatu harus sempurna. Hal ini agak sulit dalam pengimplementasiannya," ujar Nova.

Caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Budiman Sudjatmiko, yang tidak setuju dengan kata 'dosa', mengutarakan beberapa kekurangan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. "Ibu Mega, yang merupakan tokoh kharismatik yang dibesarkan oleh para pendukungnya, menginginkan generasi muda yang rasional. Tapi tampaknya beliau sedang kebingungan bagaimana merasionalisasikan generasi muda," ujarnya.

Budiman melanjutkan, hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa tidak semua kader PDI-P di sekitarnya dapat membantu. Selain hal tersebut, Megawati juga memiliki kekurangan lain. "Jika sudah menyangkut hal ideologi, beliau sosok yang emosional," imbuhnya.

Caleg Partai Amanat Nasional (PAN) Asep Supriatna lain lagi. Menurutnya, dia belum tahu dosa Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir, yang memang belum menjabat sebagai pejabat publik. "Tapi, yang saya tidak sukai, beliau memanjakan artis dan tidak membantu caleg dari kalangan aktivis," katanya.

Sementara itu, tiga caleg lainnya, Rama Pratama dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ahmad Kamal dari Partai Persatuan Pembangunan (P3), dan Iwan Dwi Laksono dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tidak menjawab. "Saya tidak pernah terpikir tentang aib dan dosa kawan saya," tegas Rama.

Hal yang sama diungkapkan Iwan. "Saya diminta jadi caleg satu bulan sebelum batas akhir penyerahan berkas caleg. Jadi saya kurang tahu," ujarnya.

Menanggapi keberanian beberapa caleg di atas untuk angkat suara mengenai dosa atau kekurangan pemimpin mereka, Direktur Eksekutif CIRUS Andrinof A. Chaniago mengatakan, hal tersebut merupakan hal yang wajar. "Yang disampaikan oleh mereka adalah kondisi objektif," ujarnya.

Bagi caleg yang enggan menyebutkan kekurangan pemimpin mereka, bagi Andrinof, menunjukkan adanya unsur kompromi." Kemungkinan, mereka terbentur oleh etika partai," katanya.(kcm
KEPRI PORTAL

Untuk Jadi Caleg Butuh Dana Berapa Ya ?

Oleh Administrator

Minggu, 01 Februari 2009 22:49

JAKARTA, MINGGU - Untuk menjadi calon anggota legislatif (caleg), tentunya memerlukan dana puluhan hingga miliaran rupiah untuk membiayai kampanye. Dana tersebut biasanya digunakan untuk membiayai pencetakan materi kampanye, seperti spanduk dan brosur, biaya transportasi, dan lainnya.

Namun, caleg dari Partai Kebangkitan Bangsa Iwan Dwi Laksono, mengatakan baru mengeluarkan uang Rp 7 juta untuk membiayai keperluan kampanyenya. "Itu pun, Rp 3 jutanya dari ibu saya, yang membantu mencetak kalender. Sebenarnya saya malu mengatakan hal ini. Mungkin, saya caleg termiskin dari yang ada di sini," ujarnya pada Uji Publik Visi Masa Depan Caleg Aktivis dan Kaum Muda, Minggu (1/2) di Jakarta.

Ketika ditanya mengenai nilai kekayaannya, Iwan mengaku tidak memiliki apa pun. "Saya kos di daerah Pasar Minggu. Di dalamnya hanya ada TV dan DVD. Itu pun harganya cuma Rp 100.000, karena dijual oleh mahasiswa yang memerlukan uang," katanya.

Caleg dari Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDIP) Budiman Sudjatmiko lain lagi. Dia mengaku telah menunggak biaya sekolah anaknya yang masih duduk di kursi playgroup selama dua bulan. Walaupun tidak menyebut angka secara gamblang, dia mengatakan membutuhkan dana publik sekitar Rp 100 juta.

Sementara itu, caleg dari Partai Demokrat (PD) Nova Riyanti Yusuf mengaku telah mengeluarkan uang sekitar Rp 100 juta. "Saya lebih banyak mengeluarkan uang untuk dialog-dialog. Modal saya tidak banyak," ujarnya tanpa menyebutkan angka pastinya.
Lain lagi dengan caleg dari Partai Amanat Nasional (PAN) Asep Supriana, yang telah menggelontorkan dana kampanyenya Rp 75 juta. Sekitar Rp 30 juta di antaranya berasal dari tabungannya, sementara sisanya hasil urunan keluarga. "Tadinya saya mau cicil apartemen bersubsidi. Tapi nggak jadi," katanya.

Sementara itu caleg dari Partai Persatuan Pembangunan (P3) Ahmad Kamal dan caleg dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Rama Pratama memilih bungkam. "Yang penting adalah darimana dana itu berasal," ujar Rama. A/
JAWAPOS/INDO POS

Senin, 02 Februari 2009


Politika

Yang Sudah Jadi DPR Belum Ada Kontribusi
Uji Publik Caleg Muda


JAKARTA - Menjelang pemilu legislatif kali ini, banyak caleg muda yang muncul. Beberapa dari mereka merupakan mantan aktivis yang dulu sering berdemonstrasi menentang Orde Baru. Kemarin caleg-caleg muda itu mengadu visi dan misi yang difasilitasi Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) dan Center for Indonesian Regional and Urban Studies (CIRUS).

Acara tersebut dihadiri enam caleg muda dari enam partai berbeda. Mereka adalah Rama Pratama (PKS), Budiman Sudjatmiko (PRD), Ahmad Wakil Kamal (PPP), Nova Riyanti Yusuf (PD), Iwan Dwi Laksono (PKB), dan Asep Supri (PAN). Kecuali Rama, mereka adalah caleg muda yang baru kali ini maju di pemilu legislatif.

Diskusi yang dilakukan di RM Koetaradja, Jakarta, itu khas semangat muda. Selain mengadu visi, masing-masing caleg saling meledek dan menyindir. Bahkan, masa lalu para caleg sebagai aktivis pun diungkit-ungkit.

Rama Pratama, misalnya. Sebagai incumbent, aktivis 98 itu dianggap tidak banyak memberikan kontribusi terhadap gerakan kaum muda. Padahal, dia sudah duduk di gedung DPR selama satu periode. Para audiens "menagih" komitmennya mengenai pengusutan tragedi Trisakti dan Semanggi. "Kami tidak melihat kontribusi nyata Bung Rama selama ini," serang Ahmad Wakil Kamal.

Caleg dari dapil XI Jatim (Madura) itu mengatakan, kesejahteraan warga Madura tidak banyak berubah. Padahal, kata dia, potensi pertanian Madura sangat besar. Mulai garam hingga tembakau. "Bahkan, di Madura ada 40 titik potensial tambang minyak. Saya yakin, potensi negeri Madura bisa bersaing dengan Jawa," tegasnya.

Namun, Wakil Kamal rupanya mengalami "keseleo" lidah. Dia salah menyebut Pulau Madura menjadi negeri Madura. Hampir bersamaan, beberapa caleg itu pun meneriakinya, "Madura Merdeka!"

Sejumlah kritik dan serangan tak luput ditujukan kepada Budiman Sudjatmiko. Ketika pemaparan visi dan misi, mantan pendiri dan ketua Partai Rakyat Demokrat (PRD) yang beberapa kali mengutip perkataan mantan Presiden Soekarno itu juga tak luput dari serangan. Rama yang mendapat giliran selanjutnya pun menyindir ketua umum Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) itu. "Dulu yang dikutip banyak dari Marx, sekarang kok lebih banyak Soekarno," sindirnya, disambut riuh tepuk peserta diskusi.

Menanggapi hal itu, Budiman pun berkilah. Dia mengatakan, Soekarno juga memiliki komitmen pada kaum marhaen. "Lagi pula, siapa sih pemimpin Indonesia yang saat masa mudanya tidak berhaluan kiri. Kalau pendiri negeri ini tidak kiri, sekarang kita masih dikuasai penjajah. Sjahrir, Hatta, bahkan Nasir pun dibesarkan dengan ideologi kiri," katanya.

Tiba giliran Nova Riyanti Yusuf. Dokter yang juga penulis novel itu menjanjikan perjuangan untuk undang-undang kesehatan jiwa. Wanita yang sedang menunggu gelar psikiater itu mengatakan, DPR sempat membahas rancangan undang-undang tersebut. Namun, akhirnya mental karena para perancang undang-undang tak memahami ilmunya. (aga/dyn)

PKS: Sesama Caleg Muda Dilarang Saling Jegal

okezone

Pemilu - pemilihan legislatif


PKS: Sesama Caleg Muda Dilarang Saling Jegal

Minggu, 1 Februari 2009 - 12:21 wib Maria Ulfa Eleven Safa - Okezone


JAKARTA - Fenomena saling jegal dalam dunia politik mendapat perhatian khusus dari Rama Pratama. Calon anggota legislatif dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengimbau kepada para caleg muda agar tidak saling jegal dalam pemilu.

Diharapkan kerjasama ini akan berlanjut hingga lima tahun ke depan. Itu jika mereka terpilih duduk di kursi parlemen. "Caleg muda jangan saling jegal, kita harus kompak dan bersatu," ujarnya dalam Uji Politik Masa Depan di Restoran Koetaradja, Jalan Senen Raya, Jakarta Pusat, Minggu (1/2/2009).

Kebersamaan antarcaleg muda diperlukan agar suara mereka didengar oleh anggota DPR lain. Sebab, ketika para caleg muda terpilih kelak, maka akan dibenturkan dengan agenda-agenda konvensional partai.

"Sebagai politisi muda yang baru duduk di kursi parlemen, tentu belum banyak pihak yang akan mendengar pendapatnya. Itu yang harus kita lawan," tambahnya.

Dalam acara tersebut, Rama beserta lima calon anggota legislatif muda lain diadu untuk menyampaikan visi dan misi. Mereka adalah mantan aktivis dan profesional muda yang akan berlaga dalam Pemilu legislatif.

Seperti Ahmad Wakil Kamal dari PPP, Budiman Sudjatmiko PDIP, Novariyati Yusuf Partai Demokrat, Iwan Dwi Laksono PKB, dan Asep Supri PAN. Sedangkan Adrinof Chaniago berperan sebagai panelis.

Keenam pemuda di atas dalam pemaparannya sama-sama berkeinginan memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Mereka juga ingin membuat undang -undang yang berpihak rakyat. (mir)

(ful)

Caleg Aktivis, Berpeluang Dulang Suara Terbanyak

okezone

Pemilu - pemilihan legislatif


Caleg Aktivis, Berpeluang Dulang Suara Terbanyak

Minggu, 1 Februari 2009 - 14:38 wib Maria Ulfa Eleven Safa - Okezone

JAKARTA - Calon Legislator yang berlatar belakang aktivis dinilai jauh lebih berpeluang mendulang suara paling banyak dibanding dengan dengan caleg lain yang berlatar belakang artis dan caleg berkantong tebal.

Demikian dikatakan Direktur Eksekutif Cyrus Surveyor Group Andrinof A Chaniago, usai diskusi uji politik visi masa depan caleg aktivis dan kaum muda di Restoran Koetaradja, Jakarta, Minggu (1/2/2009).

"Karena para caleg yang berlatar belakang aktivis itu, sudah lama bersentuhan langsung dengan masyarakat. Dia juga sudah terbiasa mengemukakan pendapat di depan umum," ungkapnya.

Selain itu, Andrinof juga memaparkan, kelebihan caleg yang berlatar belakang aktivis adalah mereka terbiasa menganalisis sebuah masalah dan keteguhan hati tidak dapat digoyahkan. "Jadi wajar kalau mereka lebih mendapat tempat ketimbang artis," tambah dia.

Andrinof menambahkan, pertimbangan saat ini adalah para aktivis ini telah memiliki jaringan yang kuat. Namun, kata dia, para caleg aktivis ini harus berhadapan dengan para pemilih tradisional seperti jaringan Muhammadiyah dan NU.

"Tapi mereka berhadapan dengan orang-orang yang memiliki jaringan tradisional dan bermodal," pungkasnya.
(nov)

Aktivis: Jadi Caleg Investasi Jangka Panjang

okezone

Pemilu - pemilihan legislatif


Aktivis: Jadi Caleg Investasi Jangka Panjang

Minggu, 1 Februari 2009 - 18:05


JAKARTA - Meskipun Cyrus Surveyor Group mengungkapkan bahwa para calon anggota legislatif yang berlatar belakang aktivis memiliki peluang lebih besar dalam meraup suara terbanyak, namun tak menjamin mereka akan lolos dalam pemilu.

Aktivis sekelas Budiman Sujatmiko saja memperhitungkan langkahnya kemungkinan bakal terjegal oleh para caleg berduit. "Aktivis muda memiliki jaringan yang kuat di lapangan. Tantangan kita adalah bersaing dengan politisi yang banyak uang," ucapnya usai diskusi bertajuk "Uji Politik Visi Masa Depan Caleg Aktivis dan Kaum Muda" di Restoran Koetaradja, Jakarta, Minggu (1/2/2009).

Mantan aktivis di penghujung era Orde Baru ini mengatakan, sekali para caleg berduit mengeluarkan koceknya, banyak rakyat yang akan cepat pindah ke lain hati. Namun begitu, langkah yang dilakukan caleg muda saat ini adalah investasi.

"Walau nanti tidak menjadi caleg, namun ini adalah modal awal berpolitik dan bersosial," kata dia.

Dalam mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, para caleg muda memiliki tujuan jangka panjang. "Ekspektasi kita punya tujuan jangka panjang, menjadi politisi muda yang kawakan," pungkasnya.
(nov)

Berapa Modal Caleg?

KOMPAS.com
MInggu, 1 Pebruari 2009

Berapa Modal Caleg?

JAKARTA, MINGGU - Untuk menjadi calon anggota legislatif (caleg), tentunya memerlukan dana puluhan hingga miliaran rupiah untuk membiayai kampanye. Dana tersebut biasanya digunakan untuk membiayai pencetakan materi kampanye, seperti spanduk dan brosur, biaya transportasi, dan lainnya.

Namun, caleg dari Partai Kebangkitan Bangsa Iwan Dwi Laksono, mengatakan baru mengeluarkan uang Rp 7 juta untuk membiayai keperluan kampanyenya. "Itu pun, Rp 3 jutanya dari ibu saya, yang membantu mencetak kalender. Sebenarnya saya malu mengatakan hal ini. Mungkin, saya caleg termiskin dari yang ada di sini," ujarnya pada Uji Publik Visi Masa Depan Caleg Aktivis dan Kaum Muda, Minggu (1/2) di Jakarta.

Ketika ditanya mengenai nilai kekayaannya, Iwan mengaku tidak memiliki apa pun. "Saya kos di daerah Pasar Minggu. Di dalamnya hanya ada TV dan DVD. Itu pun harganya cuma Rp 100.000, karena dijual oleh mahasiswa yang memerlukan uang," katanya.

Caleg dari Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDIP) Budiman Sudjatmiko lain lagi. Dia mengaku telah menunggak biaya sekolah anaknya yang masih duduk di kursi playgroup selama dua bulan. Walaupun tidak menyebut angka secara gamblang, dia mengatakan membutuhkan dana publik sekitar Rp 100 juta.

Sementara itu, caleg dari Partai Demokrat (PD) Nova Riyanti Yusuf mengaku telah mengeluarkan uang sekitar Rp 100 juta. "Saya lebih banyak mengeluarkan uang untuk dialog-dialog. Modal saya tidak banyak," ujarnya tanpa menyebutkan angka pastinya.

Lain lagi dengan caleg dari Partai Amanat Nasional (PAN) Asep Supriana, yang telah menggelontorkan dana kampanyenya Rp 75 juta. Sekitar Rp 30 juta di antaranya berasal dari tabungannya, sementara sisanya hasil urunan keluarga. "Tadinya saya mau cicil apartemen bersubsidi. Tapi nggak jadi," katanya.

Sementara itu caleg dari Partai Persatuan Pembangunan (P3) Ahmad Kamal dan caleg dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Rama Pratama memilih bungkam. "Yang penting adalah darimana dana itu berasal," ujar Rama.


HIN

Pidato Megawati Dibuat Anak Muda Lho

KOMPAS.COM

Minggu, 1 Pebruari 2009

Pidato Megawati Dibuat Anak Muda Lho

JAKARTA, MINGGU- Sama seperti Presiden ke-44 Amerika Serikat Barack Hussein Obama, yang pidato upacara pelantikannya ditulis oleh seorang anak muda bernama Jon Favreau (27), pidato Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri, khususnya mengenai penurunan harga BBM baru-baru ini, dibuat oleh anak muda.

Demikian disampaikan calon anggota legislatif (caleg) Budiman Sudjatmiko dari PDIP pada acara Uji Publik Visi Masa Depan Caleg Aktivis dan Kaum Muda, Minggu (1/2) di Jakarta.

"Dan yang disampaikan adalah berdasarkan fakta," ujar Budiman menanggapi pertanyaan dari caleg Novi Riyanti Yusuf dari Partai Demokrat mengenai pembuat naskah pidato tersebut.

Menanggapi cibiran beberapa pihak yang mengatakan bahwa PDIP merupakan partai feodal, yang semuanya tergantung dari ketua umum, Budiman tidak menampiknya. "Namun, kami sedang bertransformasi dari organisasi kharismatik menjadi organisasi modern. We are working on it," ujarnya.


HIN

SBY Perfeksionis, Mega Emosional, SB Manjakan Artis

KOMPAS.COM


SBY Perfeksionis, Mega Emosional, SB Manjakan Artis


JAKARTA, MINGGU — Beberapa calon anggota legislatif (caleg) yang hadir dalam Uji Publik Visi Masa Depan Caleg Aktivis dan Kaum Muda, Minggu (1/2) di Jakarta, berani buka-bukaan mengenai dosa atau keburukan ketua umum atau ketua dewan pembina partai mereka ketika ditanya salah seorang wartawan.

Menurut caleg Nova Riyanti Yusuf dari Partai Demokrat, dosa dari Ketua Dewan Pembina PD Susilo Bambang Yudhoyono adalah dorongan terhadap kesempurnaan. "Beliau mempunyai dorongan bahwa segala sesuatu harus sempurna. Hal ini agak sulit dalam pengimplementasiannya," ujar Nova.

Caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Budiman Sudjatmiko, yang tidak setuju dengan kata 'dosa', mengutarakan beberapa kekurangan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. "Ibu Mega, yang merupakan tokoh kharismatik yang dibesarkan oleh para pendukungnya, menginginkan generasi muda yang rasional. Tapi tampaknya beliau sedang kebingungan bagaimana merasionalisasikan generasi muda," ujarnya.

Budiman melanjutkan, hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa tidak semua kader PDI-P di sekitarnya dapat membantu. Selain hal tersebut, Megawati juga memiliki kekurangan lain. "Jika sudah menyangkut hal ideologi, beliau sosok yang emosional," imbuhnya.

Caleg Partai Amanat Nasional (PAN) Asep Supriatna lain lagi. Menurutnya, dia belum tahu dosa Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir, yang memang belum menjabat sebagai pejabat publik. "Tapi, yang saya tidak sukai, beliau memanjakan artis dan tidak membantu caleg dari kalangan aktivis," katanya.

Sementara itu, tiga caleg lainnya, Rama Pratama dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ahmad Kamal dari Partai Persatuan Pembangunan (P3), dan Iwan Dwi Laksono dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tidak menjawab. "Saya tidak pernah terpikir tentang aib dan dosa kawan saya," tegas Rama.

Hal yang sama diungkapkan Iwan. "Saya diminta jadi caleg satu bulan sebelum batas akhir penyerahan berkas caleg. Jadi saya kurang tahu," ujarnya.

Menanggapi keberanian beberapa caleg di atas untuk angkat suara mengenai dosa atau kekurangan pemimpin mereka, Direktur Eksekutif CIRUS Andrinof A. Chaniago mengatakan, hal tersebut merupakan hal yang wajar. "Yang disampaikan oleh mereka adalah kondisi objektif," ujarnya.

Bagi caleg yang enggan menyebutkan kekurangan pemimpin mereka, bagi Andrinof, menunjukkan adanya unsur kompromi." Kemungkinan, mereka terbentur oleh etika partai," katanya.


HIN

Perfeksionis, Mega Emosional, SB Manjakan Artis

KOMPAS.COM


Perfeksionis, Mega Emosional, SB Manjakan Artis


KOMPAS/AGUS SUSANTO

Dadang menabuh beduk untuk menarik perhatian pengguna kendaraan bermotor yang melintas di Jalan Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (6/9). Beduk dengan berbagai variasi warna serta logo partai tersebut dijual Rp 600.000 per buah. JAKARTA, MINGGU — Beberapa calon anggota legislatif (caleg) yang hadir dalam Uji Publik Visi Masa Depan Caleg Aktivis dan Kaum Muda, Minggu (1/2) di Jakarta, berani buka-bukaan mengenai dosa atau keburukan ketua umum atau ketua dewan pembina partai mereka ketika ditanya salah seorang wartawan.

Menurut caleg Nova Riyanti Yusuf dari Partai Demokrat, dosa dari Ketua Dewan Pembina PD Susilo Bambang Yudhoyono adalah dorongan terhadap kesempurnaan. "Beliau mempunyai dorongan bahwa segala sesuatu harus sempurna. Hal ini agak sulit dalam pengimplementasiannya," ujar Nova.

Caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Budiman Sudjatmiko, yang tidak setuju dengan kata 'dosa', mengutarakan beberapa kekurangan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. "Ibu Mega, yang merupakan tokoh kharismatik yang dibesarkan oleh para pendukungnya, menginginkan generasi muda yang rasional. Tapi tampaknya beliau sedang kebingungan bagaimana merasionalisasikan generasi muda," ujarnya.

Budiman melanjutkan, hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa tidak semua kader PDI-P di sekitarnya dapat membantu. Selain hal tersebut, Megawati juga memiliki kekurangan lain. "Jika sudah menyangkut hal ideologi, beliau sosok yang emosional," imbuhnya.

Caleg Partai Amanat Nasional (PAN) Asep Supriatna lain lagi. Menurutnya, dia belum tahu dosa Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir, yang memang belum menjabat sebagai pejabat publik. "Tapi, yang saya tidak sukai, beliau memanjakan artis dan tidak membantu caleg dari kalangan aktivis," katanya.

Sementara itu, tiga caleg lainnya, Rama Pratama dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ahmad Kamal dari Partai Persatuan Pembangunan (P3), dan Iwan Dwi Laksono dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tidak menjawab. "Saya tidak pernah terpikir tentang aib dan dosa kawan saya," tegas Rama.

Hal yang sama diungkapkan Iwan. "Saya diminta jadi caleg satu bulan sebelum batas akhir penyerahan berkas caleg. Jadi saya kurang tahu," ujarnya.

Menanggapi keberanian beberapa caleg di atas untuk angkat suara mengenai dosa atau kekurangan pemimpin mereka, Direktur Eksekutif CIRUS Andrinof A. Chaniago mengatakan, hal tersebut merupakan hal yang wajar. "Yang disampaikan oleh mereka adalah kondisi objektif," ujarnya.

Bagi caleg yang enggan menyebutkan kekurangan pemimpin mereka, bagi Andrinof, menunjukkan adanya unsur kompromi." Kemungkinan, mereka terbentur oleh etika partai," katanya.


HIN

Budiman Sudjatmiko Pertanyakan Kaum Tua

INILAH.COM

01/02/2009 - 15:05

Budiman Sudjatmiko Pertanyakan Kaum Tua


Vina Nurul Iklima

INILAH.COM, Jakarta – Maraknya bermunculan caleg muda di Pemilu 2009 dianggap caleg PDIP Budiman Sudjatmiko sebagai investasi angka panjang. Kaum muda dianggapnya mampu berpikir untuk 30 tahun ke depan.


"Para caleg muda otomatis berpikir bagaimana untuk investasi moral, investasi politik, dan sosial bagi mereka sendiri," kata caleg PDIP dari Dapil Banyumas dan Cilacap ini, saat diskusi 'Uji Politik Visi Masa Depan Caleg Aktivis dan Kaum Muda', di Jakarta, Minggu (1/2).


Menurut Budiman, ini adalah kesempatan yang sangat bagus bagi kaum muda yang dulunya para aktivis muda. Mereka yang masuk ke ranah partai politik saat ini, dinilainya menjadi pembelajaran bagi kegagalan kaum tua untuk membawa aspirasi rakyat. "Kita bisa perbaiki lima tahun lalu," kata dia optimistis.


Selain itu, lanjut Budiman, dengan adanya keputusan MK yang menetapkan sistem suara terbanyak, bisa menjadikan amanah langsung dari rakyat. Sebab, masyarakat akan punya keberanian untuk mengontrol dan mengawasi kinerja caleg muda itu di parlemen.


"Persoalannya bukan tua atau muda yang layak, tapi kaum tua pensiunan yang tidak punya latar organisasi politik seperti kami yang menjadi masalah. Kalau punya integritas itu oke-oke saja," terang dia. [ikl/nuz]

Budiman Cibir Caleg Gaek

INILAH.COM

01/02/2009 - 15:15

Budiman Cibir Caleg Gaek

Vina Nurul Iklima

INILAH.COM, Jakarta – Kader muda PDIP Budiman Sudjatmiko mempertanyakan kemampuan para politisi gaek yang kembali maju sebagai caleg do Pemilu 2009. Caleg muda dianggapnya lebih bisa diandalkan sebagai 'investasi' jangka panjang, karena mampu berpikir untuk 30 tahun ke depan.


"Para caleg muda otomatis berpikir bagaimana untuk investasi moral, investasi politik, dan sosial bagi mereka sendiri," kata caleg PDIP dari Dapil Banyumas dan Cilacap ini, saat diskusi 'Uji Politik Visi Masa Depan Caleg Aktivis dan Kaum Muda', di Jakarta, Minggu (1/2).


Menurut Budiman, ini adalah kesempatan yang sangat bagus bagi kaum muda yang dulunya para aktivis muda. Mereka yang masuk ke ranah partai politik saat ini, dinilainya menjadi pembelajaran bagi kegagalan kaum tua untuk membawa aspirasi rakyat. "Kita bisa perbaiki lua tahun lalu," kata dia optimistis.


Selain itu, lanjut Budiman, dengan adanya keputusan MK yang menetapkan sistem suara terbanyak, bisa menjadikan amanah langsung dari rakyat. Sebab, masyarakat akan punya keberanian untuk mengontrol dan mengawasi kinerja caleg muda itu di parlemen.


"Persoalannya bukan tua atau muda yang layak, tapi kaum tua pensiunan yang tidak punya latar organisasi politik seperti kami yang menjadi masalah. Kalau punya integritas itu oke-oke saja," terang dia. [ikl/nuz]

Caleg PKS: Caleg Tua Tak Punya Misi

INILAH.COM

01/02/2009 - 16:05

Caleg PKS: Caleg Tua Tak Punya Misi

Vina Nurul Iklim

INILAH.COM, Jakarta – Caleg PKS Daerah Pemilhan Jakarta Timur Rama Pratama mengatakan, saat ini Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi orang muda untuk tampil di pentas politik. Sebab, menurutnya, orang muda punya spektrum perjuangan jangka panjang.


"Kalau yang tua paling sebentar lagi juga selesai dan tidak punya misi di parlemen dalam jangka panjang," kata Rama, saat diskusi 'Uji Politik Visi Masa Depan Caleg Aktivis dan Kaum Muda', di Jakarta, Minggu (1/2).


Mantan Ketua Senat Mahasiswa Universitas Indonesia ini, caleg muda lebih memiliki visi dan misi bahkan mimpi bagi perkembangan jangka panjang Indonesia. Sehingga, ia menilai saat ini merupakan waktunya kaum muda untuk melakukan perubahan.


"Dengan keputusan MK yang suara terbanyak, kami yakin kaum muda bisa mengalahkan kaum tua mapan. Tapi bukan persoalan kaum muda melawan kaum tua, tapi bagaimana yang muda lebih punya energi yang lebih besar," terangnya. [ikl/nuz]