VIVANEWS.COM
Kalla Calon Presiden
Ray Rangkuti: Kalla Tak Siap
Jusuf Kalla tahu dirinya tidak sekuat Susilo Bambang Yudhoyono.
Minggu, 22 Februari 2009, 18:12 WIB
Hadi Suprapto
VIVAnews - Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia Ray Rangkuti menilai Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla tidak siap maju sebagai calon presiden. Kesedian Kalla dinilai hanya memuaskan internal Golkar.
"Dalam diri Jusuf Kalla sebenarnya tidak siap, karena Kalla tahu dirinya tidak sekuat SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono)," kata Ray dalam keterangan persnya di Jakarta, Minggu 22 Februari 2009.
Pernyataan Kalla yang bersedia maju sebagai bakal calon presiden sebelum pemilu legislatif, menurut Ray, hanya merupakan terapi bagi Partai Golkar."Ini bukan keinginan Kalla," ujar dia.
Ray mengatakan, Kalla sebenarnya masih merasa nyaman dengan Yudhoyono. Namun karena ada desakan dari internal Golkar, Kalla memaksakan diri maju sebagai calon presiden.
Majunya Kalla sebagai calon presiden, hanya untuk meredam desakan internal Golkar. Selain itu, Golkar sebagai partai besar agar tidak dianggap remeh."Asumsi Golkar, yang penting punya calon sendiri," kata Ray.
Meski sudah menyatakan kesiapannya, Kalla diharapkan tetap menjadi negarawan untuk menjalankan tugasnya sebagai wakil presiden. Sebab, jika masalah politik masuk dalam tatanan kerja negara akan mengganggu jalannya pemerintahan.
• VIVAnews
Minggu, 22 Februari 2009
Ray Rangkuti: Golkar Tak Serius Usung Kalla
TRIBUN TIMUR.COM
Partai Demokrat Tak Ubah Strategi
Ray Rangkuti: Golkar Tak Serius Usung Kalla
Senin, 23 Februari 2009 | 08:28 WITA
Jakarta, Tribun - Pernyataan kesiapan Ketua Umum DPP Partai Golongan Karya, Jusuf Kalla, untuk bersaing dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tak membuat Partai Demokrat mengubah strategi.
"Kami tidak melakukan perubahan strategi karena ini tidak terkait dengan perkembangan isu capres atau cawapres," ucap Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Politik Anas Urbaningrum kepada Persda Network di Jakarta, Minggu (22/2).
Menurut Anas, semenjak awal Partai Demokrat telah menekankan para caleg untuk memandang semua caleg partai lain sebagai kompetitor. Caleg partainya SBY ini mesti bekerja keras seperti yang ditegaskan sejak awal.
Anas menambahkan, kesediaan Kalla menjadi Capres dari Golkar pada dasarnya bukan hal yang aneh dan membahayakan. Mantan Ketua Umum PB HMI ini justru menilai, kesiapan Kalla terkesan didramatisasi dalam peta perpolitikan nasional.
"Saya kira tidak perlu didramatisasi. Setiap partai berhak memajukan kadernya menjadi capres, dan itu harus kita terima sebagai kewajaran. Dan bukan sesuatu yang aneh, dan berlebih-lebihan," ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti usai mengelar jumpa pers, Minggu (22/2) sore, mengatakan, majunya Jusuf Kalla dalam bursa capres kurang mendapat dukungan secara serius Partai Golkar yang dipimpinnya.
Selain pernyataan Kalla terkesan sangat mendadak, majunya orang nomor satu di partai beringin tersebut hanya berdasarkan jajak pendapat. Sementara, Partai Golkar belum secara resmi menyatakan bakal mengusung ketua umumnya itu.
"Golkar kelihatannya belum serius mencalonkan Jusuf Kalla sebagai capres. Buktinya, sampai sekarang ini Partai Golkar belum mengumumkan siapa capresnya. Tiba-tiba pak Kalla menyatakan siap maju sebagai capres. Selain mengejutkan juga mengherankan," cetusnya.
Meski begitu, Ray Rangkuti menyambut baik rencana Jusuf Kalla yang akan maju dalam bursa capres mendatang. Diharapkan dengan majunya Jusuf Kalla tersebut akan menghidupkan dan terus mengembangnya budaya demokrasi di Indonesia.
"Ya paling tidak, dengan majunya pak JK sebagai capres sebagai bentuk perkembangan demokrasi di negara ini. Masyarakat akan menemui banyak pilihan, calon pemimpin untuk lima tahun mendatang," terang Ray Rangkuti.
Nama Jusuf Kalla masuk dalam lima besar jika disandingkan dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, ia tidak pernah masuk dalam survei. Beberapa lembaga survei yang ada di Indonesia, belum pernah memasukkan nama Kalla sebagai capres.(persda network/coi)
Tribun Timur, Selalu yang Pertama
Partai Demokrat Tak Ubah Strategi
Ray Rangkuti: Golkar Tak Serius Usung Kalla
Senin, 23 Februari 2009 | 08:28 WITA
Jakarta, Tribun - Pernyataan kesiapan Ketua Umum DPP Partai Golongan Karya, Jusuf Kalla, untuk bersaing dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tak membuat Partai Demokrat mengubah strategi.
"Kami tidak melakukan perubahan strategi karena ini tidak terkait dengan perkembangan isu capres atau cawapres," ucap Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Politik Anas Urbaningrum kepada Persda Network di Jakarta, Minggu (22/2).
Menurut Anas, semenjak awal Partai Demokrat telah menekankan para caleg untuk memandang semua caleg partai lain sebagai kompetitor. Caleg partainya SBY ini mesti bekerja keras seperti yang ditegaskan sejak awal.
Anas menambahkan, kesediaan Kalla menjadi Capres dari Golkar pada dasarnya bukan hal yang aneh dan membahayakan. Mantan Ketua Umum PB HMI ini justru menilai, kesiapan Kalla terkesan didramatisasi dalam peta perpolitikan nasional.
"Saya kira tidak perlu didramatisasi. Setiap partai berhak memajukan kadernya menjadi capres, dan itu harus kita terima sebagai kewajaran. Dan bukan sesuatu yang aneh, dan berlebih-lebihan," ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti usai mengelar jumpa pers, Minggu (22/2) sore, mengatakan, majunya Jusuf Kalla dalam bursa capres kurang mendapat dukungan secara serius Partai Golkar yang dipimpinnya.
Selain pernyataan Kalla terkesan sangat mendadak, majunya orang nomor satu di partai beringin tersebut hanya berdasarkan jajak pendapat. Sementara, Partai Golkar belum secara resmi menyatakan bakal mengusung ketua umumnya itu.
"Golkar kelihatannya belum serius mencalonkan Jusuf Kalla sebagai capres. Buktinya, sampai sekarang ini Partai Golkar belum mengumumkan siapa capresnya. Tiba-tiba pak Kalla menyatakan siap maju sebagai capres. Selain mengejutkan juga mengherankan," cetusnya.
Meski begitu, Ray Rangkuti menyambut baik rencana Jusuf Kalla yang akan maju dalam bursa capres mendatang. Diharapkan dengan majunya Jusuf Kalla tersebut akan menghidupkan dan terus mengembangnya budaya demokrasi di Indonesia.
"Ya paling tidak, dengan majunya pak JK sebagai capres sebagai bentuk perkembangan demokrasi di negara ini. Masyarakat akan menemui banyak pilihan, calon pemimpin untuk lima tahun mendatang," terang Ray Rangkuti.
Nama Jusuf Kalla masuk dalam lima besar jika disandingkan dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, ia tidak pernah masuk dalam survei. Beberapa lembaga survei yang ada di Indonesia, belum pernah memasukkan nama Kalla sebagai capres.(persda network/coi)
Tribun Timur, Selalu yang Pertama
Golkar Kurang Serius Calonkan JK Sebagai Capres
POS KUPANG.COM
Golkar Kurang Serius Calonkan JK Sebagai Capres
JAKARTA, PK -- Mendadaknya Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menyatakan siap maju sebagai calon presiden (Capres) pada pemilihan umum presiden mendatang mendapat tanggapan miring. Menurut Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti usai mengelar jumpa pers, Minggu (22/2) sore, majunya Jusuf Kalla dalam bursa capres kurang mendapat dukungan secara serius Partai Golkar yang dipimpinnya.
Hal itu terlihat, selain karena secara mendadak memberikan pernyataan kepada publik, juga majunya Jusuf Kalla tersebut berdasarkan jajak pendapat saja. Sementara, Golkar belum secara resmi menyatakan bakal mengusung ketua umumnya itu.
"Golkar kelihatannya belum serius mencalonkan Jusuf Kalla sebagai capres. Buktinya, sampai sekarang ini Golkar belum mengumumkan siapa capresnya. Tiba-tiba pak Kalla menyatakan siap maju sebagai capres. Selain mengejutkan juga mengherankan, kok begitu tiba-tiba," cetusnya.
Meski begitu, Ray Rangkuti menyambut baik rencana Jusuf Kalla yang akan maju dalam bursa capres mendatang. Diharapkan dengan majunya Jusuf Kalla tersebut akan menghidupkan dan terus mengembangnya budaya demokrasi di Indonesia.
Paling tidak, masyarakat akan mendapatkan banyak pilihan calon pemimpin bangsa untuk lima tahun ke depan. Sehingga, masyarakat tidak terlalu bingung untuk menentukan pilihannya, karena bisa membandingkan berbagai bentuk kepemimpinan yang pernah ada di Indonesia.
"Ya, paling tidak, dengan majunya pak JK sebagai capres sebagai bentuk perkembangan demokrasi di negara ini. Masyarakat akan menemui banyak pilihan, calon pemimpin untuk lima tahun mendatang," terang Ray Rangkuti.
Masih menurutnya, ketidak seriusan Golkar mencalonkan ketua umumnya itu berdasarkan hasil jajak pendapat. Dimana nama Jusuf Kalla masuk dalam lima besar jika disandingkan dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Namun, untuk Jusuf Kalla sendiri tidak pernah masuk dalam survei. Beberapa lembaga survey yang ada di Indonesia, belum pernah memasukkan nama ketua umum partai berlambang pohon beringin itu sebagai capres.
"Kan jelas sekali. Selama ini, yang ada hanya jajak pendapat mengenai duet antara pak SBY dan JK saya. Secara khusus partai Golkar atau pak JK belum pernah melakukan survey tentang dirinya jika maju sebagai capres. makanya saya menyebutnya, ada keengganan partai Golkar untuk mendukung pak JK maju sebagai capres," urainya.
Ditanya apakah Golkar masih melirik tokoh-tokoh lain selain Jusuf Kalla, Ray Rangkuti tidak secara tegas menjawabnya. Meski begitu, dia menilai ada dugaan jika para pengurus Golkar sendiri belum kompak untuk memberikan dukungan kepada Jusuf Kalla.
"Tidak tertutup kemungkinan seperti itu. Buktinya saja, sampai saat ini kan belum ada pernyataan resmi dari Golkar tentang pencalonan ketua umumnya itu," cetusnya diplomatis.( Persda Network/coi)
Golkar Kurang Serius Calonkan JK Sebagai Capres
JAKARTA, PK -- Mendadaknya Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menyatakan siap maju sebagai calon presiden (Capres) pada pemilihan umum presiden mendatang mendapat tanggapan miring. Menurut Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti usai mengelar jumpa pers, Minggu (22/2) sore, majunya Jusuf Kalla dalam bursa capres kurang mendapat dukungan secara serius Partai Golkar yang dipimpinnya.
Hal itu terlihat, selain karena secara mendadak memberikan pernyataan kepada publik, juga majunya Jusuf Kalla tersebut berdasarkan jajak pendapat saja. Sementara, Golkar belum secara resmi menyatakan bakal mengusung ketua umumnya itu.
"Golkar kelihatannya belum serius mencalonkan Jusuf Kalla sebagai capres. Buktinya, sampai sekarang ini Golkar belum mengumumkan siapa capresnya. Tiba-tiba pak Kalla menyatakan siap maju sebagai capres. Selain mengejutkan juga mengherankan, kok begitu tiba-tiba," cetusnya.
Meski begitu, Ray Rangkuti menyambut baik rencana Jusuf Kalla yang akan maju dalam bursa capres mendatang. Diharapkan dengan majunya Jusuf Kalla tersebut akan menghidupkan dan terus mengembangnya budaya demokrasi di Indonesia.
Paling tidak, masyarakat akan mendapatkan banyak pilihan calon pemimpin bangsa untuk lima tahun ke depan. Sehingga, masyarakat tidak terlalu bingung untuk menentukan pilihannya, karena bisa membandingkan berbagai bentuk kepemimpinan yang pernah ada di Indonesia.
"Ya, paling tidak, dengan majunya pak JK sebagai capres sebagai bentuk perkembangan demokrasi di negara ini. Masyarakat akan menemui banyak pilihan, calon pemimpin untuk lima tahun mendatang," terang Ray Rangkuti.
Masih menurutnya, ketidak seriusan Golkar mencalonkan ketua umumnya itu berdasarkan hasil jajak pendapat. Dimana nama Jusuf Kalla masuk dalam lima besar jika disandingkan dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Namun, untuk Jusuf Kalla sendiri tidak pernah masuk dalam survei. Beberapa lembaga survey yang ada di Indonesia, belum pernah memasukkan nama ketua umum partai berlambang pohon beringin itu sebagai capres.
"Kan jelas sekali. Selama ini, yang ada hanya jajak pendapat mengenai duet antara pak SBY dan JK saya. Secara khusus partai Golkar atau pak JK belum pernah melakukan survey tentang dirinya jika maju sebagai capres. makanya saya menyebutnya, ada keengganan partai Golkar untuk mendukung pak JK maju sebagai capres," urainya.
Ditanya apakah Golkar masih melirik tokoh-tokoh lain selain Jusuf Kalla, Ray Rangkuti tidak secara tegas menjawabnya. Meski begitu, dia menilai ada dugaan jika para pengurus Golkar sendiri belum kompak untuk memberikan dukungan kepada Jusuf Kalla.
"Tidak tertutup kemungkinan seperti itu. Buktinya saja, sampai saat ini kan belum ada pernyataan resmi dari Golkar tentang pencalonan ketua umumnya itu," cetusnya diplomatis.( Persda Network/coi)
Golkar Dinilai Tak Serius Jadikan JK Capres
KOMPASTV.COM
Golkar Dinilai Tak Serius Jadikan JK Capres
Minggu, 22 Pebruari 2009, 19.24 WIB
Partai Golkar diniali tidak serius mencalonkan Jusuf Kalla sebagai Calon Presiden (Capres) dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 8 Juli mendatang. Penilain tersebut dilontarkan direktur Lingkar Madani untuk Indoneisa (Lima), Ray Rangkuti di Jakarta, Minggu (22/2).
Menurut Ray, JK tidak siap dan Golkar masih ragu-ragu mencalonkan ketua umum mereka sebagai Capres. Keraguan tersebut terlihat dari dilakukannya jajak pendapat di internal Partai Golkar. Ray menilai masih ada kemungkinan besar JK tidak akan terpilih sebagai Capres Golkar. Hal tersebut mengingat elektabilitas JK yang berada dibawah lima besar sejumlah jajak pendapat mengenai capres.
Sebelumnya, JK yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden menyatakan kesiapannya menjadi Capres. Dengan keluarnya pernyataan JK tersebut, Pilpres mendatang diprediksi hanya terbatas pada tiga capres yakni SBY dari demokarat, Megawati dari PDIP serta JK sendiri.
| Rep/ Kam/ Pen: Mahfud | VO: Maya, Derly | Editor video: Ardie |
Golkar Dinilai Tak Serius Jadikan JK Capres
Minggu, 22 Pebruari 2009, 19.24 WIB
Partai Golkar diniali tidak serius mencalonkan Jusuf Kalla sebagai Calon Presiden (Capres) dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 8 Juli mendatang. Penilain tersebut dilontarkan direktur Lingkar Madani untuk Indoneisa (Lima), Ray Rangkuti di Jakarta, Minggu (22/2).
Menurut Ray, JK tidak siap dan Golkar masih ragu-ragu mencalonkan ketua umum mereka sebagai Capres. Keraguan tersebut terlihat dari dilakukannya jajak pendapat di internal Partai Golkar. Ray menilai masih ada kemungkinan besar JK tidak akan terpilih sebagai Capres Golkar. Hal tersebut mengingat elektabilitas JK yang berada dibawah lima besar sejumlah jajak pendapat mengenai capres.
Sebelumnya, JK yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden menyatakan kesiapannya menjadi Capres. Dengan keluarnya pernyataan JK tersebut, Pilpres mendatang diprediksi hanya terbatas pada tiga capres yakni SBY dari demokarat, Megawati dari PDIP serta JK sendiri.
| Rep/ Kam/ Pen: Mahfud | VO: Maya, Derly | Editor video: Ardie |
Golkar Kurang Serius Calonkan JK Sebagai Capres
TRIBUN TIMUR
Golkar Kurang Serius Calonkan JK Sebagai Capres
Laporan: Persda Network/coi
KOMPAS/ALIF ICHWAN
Minggu, 22 Februari 2009 | 19:23 WITA
JAKARTA, TRIBUN -- Mendadaknya wakil presiden (Wapres) Jusuf Kalla yang menyatakan siap maju sebagai calon presiden (Capres) pada pemilihan presiden mendatang, mendapat tanggap miring. Menurut Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti usai mengelar jumpa pers, Minggu (22/2) sore, majunya Jusuf Kalla dalam bursa capres kurang mendapat dukungan secara serius partai Golkar yang dipimpinnya
Hal itu terlihat, selain karena secara mendadak memberikan pernyataan kepada publik, juga majunya Jusuf Kalla tersebut berdasarkan jajak pendapat saja. Sementara, Golkar belum secara resmi menyatakan bakal mengusung ketua umumnya itu.
"Golkar kelihatannya belum serius mencalonkan Jusuf Kalla sebagai capres. Buktinya, sampai sekarang ini Golkar belum mengumumkan siapa capresnya. Tiba-tiba pak Kalla menyatakan siap maju sebagai capres. Selain mengejutkan juga mengherankan, kok begitu tiba-tiba," cetusnya.
Meski begitu, Ray Rangkuti menyambut baik rencana Jusuf Kalla yang akan maju dalam bursa capres mendatang. Diharapkan dengan majunya Jusuf Kalla tersebut akan menghidupkan dan terus mengembangnya budaya demokrasi di Indonesia.
Paling tidak, masyarakat akan mendapatkan banyak pilihan calon pemimpin bangsa untuk lima tahun ke depan. Sehingga, masyarakat tidak terlalu bingung untuk menentukan pilihannya, karena bisa membandingkan berbagai bentuk kepemimpinan yang pernah ada di Indonesia.
"Ya paling tidak, dengan majunya pak JK sebagai capres sebagai bentuk perkembangan demokrasi di negara ini. Masyarakat akan menemui banyak pilihan, calon pemimpin untuk lima tahun mendatang," terang Ray Rangkuti.
Masih menurutnya, ketidak seriusan Golkar mencalonkan ketua umumnya itu berdasarkan hasil jajak pendapat. Dimana nama Jusuf Kalla masuk dalam lima besar jika disandingkan dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Namun, untuk Jusuf Kalla sendiri tidak pernah masuk dalam survei. Beberapa lembaga survey yang ada di Indonesia, belum pernah memasukkan nama ketua umum partai berlambang pohon beringin itu sebagai capres.
"Kan jelas sekali. Selama ini, yang ada hanya jajak pendapat mengenai duet antara pak SBY dan JK saya. Secara khusus partai Golkar atau pak JK belum pernah melakukan survey tentang dirinya jika maju sebagai capres. makanya saya menyebutnya, ada keengganan partai Golkar untuk mendukung pak JK maju sebagai capres," urainya.
Ditanya apakah Golkar masih melirik tokoh-tokoh lain selain Jusuf Kalla, Ray Rangkuti tidak secara tegas menjawabnya. Meski begitu, dia menilai ada dugaan jika para pengurus Golkar sendiri belum kompak untuk memberikan dukungan kepada Jusuf Kalla.
"Tidak menutup kemungkinan seperti itu. Buktinya saja, sampai saat ini kan belum ada pernyataan resmi dari Golkar tentang pencalonan ketua umumnya itu," cetusnya diplomatis.
Tribun Timur, Selalu yang Pertama
Golkar Kurang Serius Calonkan JK Sebagai Capres
Laporan: Persda Network/coi
KOMPAS/ALIF ICHWAN
Minggu, 22 Februari 2009 | 19:23 WITA
JAKARTA, TRIBUN -- Mendadaknya wakil presiden (Wapres) Jusuf Kalla yang menyatakan siap maju sebagai calon presiden (Capres) pada pemilihan presiden mendatang, mendapat tanggap miring. Menurut Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti usai mengelar jumpa pers, Minggu (22/2) sore, majunya Jusuf Kalla dalam bursa capres kurang mendapat dukungan secara serius partai Golkar yang dipimpinnya
Hal itu terlihat, selain karena secara mendadak memberikan pernyataan kepada publik, juga majunya Jusuf Kalla tersebut berdasarkan jajak pendapat saja. Sementara, Golkar belum secara resmi menyatakan bakal mengusung ketua umumnya itu.
"Golkar kelihatannya belum serius mencalonkan Jusuf Kalla sebagai capres. Buktinya, sampai sekarang ini Golkar belum mengumumkan siapa capresnya. Tiba-tiba pak Kalla menyatakan siap maju sebagai capres. Selain mengejutkan juga mengherankan, kok begitu tiba-tiba," cetusnya.
Meski begitu, Ray Rangkuti menyambut baik rencana Jusuf Kalla yang akan maju dalam bursa capres mendatang. Diharapkan dengan majunya Jusuf Kalla tersebut akan menghidupkan dan terus mengembangnya budaya demokrasi di Indonesia.
Paling tidak, masyarakat akan mendapatkan banyak pilihan calon pemimpin bangsa untuk lima tahun ke depan. Sehingga, masyarakat tidak terlalu bingung untuk menentukan pilihannya, karena bisa membandingkan berbagai bentuk kepemimpinan yang pernah ada di Indonesia.
"Ya paling tidak, dengan majunya pak JK sebagai capres sebagai bentuk perkembangan demokrasi di negara ini. Masyarakat akan menemui banyak pilihan, calon pemimpin untuk lima tahun mendatang," terang Ray Rangkuti.
Masih menurutnya, ketidak seriusan Golkar mencalonkan ketua umumnya itu berdasarkan hasil jajak pendapat. Dimana nama Jusuf Kalla masuk dalam lima besar jika disandingkan dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Namun, untuk Jusuf Kalla sendiri tidak pernah masuk dalam survei. Beberapa lembaga survey yang ada di Indonesia, belum pernah memasukkan nama ketua umum partai berlambang pohon beringin itu sebagai capres.
"Kan jelas sekali. Selama ini, yang ada hanya jajak pendapat mengenai duet antara pak SBY dan JK saya. Secara khusus partai Golkar atau pak JK belum pernah melakukan survey tentang dirinya jika maju sebagai capres. makanya saya menyebutnya, ada keengganan partai Golkar untuk mendukung pak JK maju sebagai capres," urainya.
Ditanya apakah Golkar masih melirik tokoh-tokoh lain selain Jusuf Kalla, Ray Rangkuti tidak secara tegas menjawabnya. Meski begitu, dia menilai ada dugaan jika para pengurus Golkar sendiri belum kompak untuk memberikan dukungan kepada Jusuf Kalla.
"Tidak menutup kemungkinan seperti itu. Buktinya saja, sampai saat ini kan belum ada pernyataan resmi dari Golkar tentang pencalonan ketua umumnya itu," cetusnya diplomatis.
Tribun Timur, Selalu yang Pertama
Kecewa SBY Penyebab JK Nyapres?

INILAH.COM
Politik
22/02/2009 - 07:31
Kecewa SBY Penyebab JK Nyapres?
Windi Widia Ningsih
Ray Rangkuti
(inilah.com/ Raya Abdullah)
INILAH.COM, Jakarta - Desakan DPD-DPD Partai Golkar akhirnya membuat Wapres Jusuf Kalla menyatakan kesiapannya maju sebagai capres. Namun, faktor akumulasi kekecewaan terhadap Presiden SBY dinilai menjadi pemicu JK siap bersaing dalam Pilpres 2009.
"Saya pikir ini sudah merupakan akumulasi kekecewaan JK, karena merasa ditinggalkan," kata Direktur LIMA Ray Rangkuti kepada INILAH.COM di Jakarta, Minggu (22/2).
Menurut Ray, akumulasi kekecewaan itu bisa dilihat dari Rapimnas Partai Demokrat yang tidak mengundang JK, Golkar yang diserang dengan pernyataan Waketum PD Achmad Mubarok yang berandai-andai Golkar bisa saja hanya mendapat 2,5 persen dan keberhasilan pemerintah yang diklaim sepihak tanpa mengikutsertakan JK didalamnya.
Meski begitu, Ray yakin, hubungan personal Presiden dan Wapres tidak akan terganggu dengan hal ini. Namun dia memprediksi, akan muncul kampanye yang saling 'menyerang' antara kedua kubu dalam waktu dekat.
Terkait munculnya suplemen wawancara SBY di sebuah media nasional tentunya akan disikapi JK dan partainya dengan memunculkan iklan-iklan Golkar. "Kita lihat 3 bulan ke depan persaingan akan kencang," cetusnya. [win/dil]
Golkar Dinilai Tak Serius Majukan JK
DETIK.COM
Minggu, 22/02/2009 16:55 WIB
Golkar Dinilai Tak Serius Majukan JK
Didit Tri Kertapati - detikPemilu
Jakarta - Kesiapan Jusuf Kalla (JK) maju sebagai capres partai Golkar dianggap baik bagi perkembangan demokrasi di Indonesia. Namun keseriusan partai Golkar mengusung JK sebagai presiden masih dipertanyakan.
"JK tidak serius dicalonkan sebagai presiden oleh partai Golkar, karena JK maju sebagai capres dengan cara jajak pendapat," ujar Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia, Ray Rangkuti, pada jumpa pers di Jl. lautze, Jakarta Pusat, Minggu (22/2/2009).
Menurut Ray, nama JK tidak pernah masuk dalam survei capres yang dilakukan oleh berbagai lembaga survei. JK baru masuk dalam 5 besar survei jika disandingkan dengan SBY. "JK baru masuk namanya setelah disandingkan dengan SBY," terang Ray.
Ray menambahkan, pengurus Golkar sebenarnya memiliki keinginan capres lain yang akan diajukan Golkar. "JK sepertinya bukan target utama Golkar menjadi capres. Karena ada calon lain yang sepertinya disimpan Golkar," tambah Ray.
( ddt / asy )
Minggu, 22/02/2009 16:55 WIB
Golkar Dinilai Tak Serius Majukan JK
Didit Tri Kertapati - detikPemilu
Jakarta - Kesiapan Jusuf Kalla (JK) maju sebagai capres partai Golkar dianggap baik bagi perkembangan demokrasi di Indonesia. Namun keseriusan partai Golkar mengusung JK sebagai presiden masih dipertanyakan.
"JK tidak serius dicalonkan sebagai presiden oleh partai Golkar, karena JK maju sebagai capres dengan cara jajak pendapat," ujar Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia, Ray Rangkuti, pada jumpa pers di Jl. lautze, Jakarta Pusat, Minggu (22/2/2009).
Menurut Ray, nama JK tidak pernah masuk dalam survei capres yang dilakukan oleh berbagai lembaga survei. JK baru masuk dalam 5 besar survei jika disandingkan dengan SBY. "JK baru masuk namanya setelah disandingkan dengan SBY," terang Ray.
Ray menambahkan, pengurus Golkar sebenarnya memiliki keinginan capres lain yang akan diajukan Golkar. "JK sepertinya bukan target utama Golkar menjadi capres. Karena ada calon lain yang sepertinya disimpan Golkar," tambah Ray.
( ddt / asy )
Langganan:
Postingan (Atom)
